Ini Rute Baru Surabaya Heritage Track

Ini Rute Baru Surabaya Heritage Track

Memasuki usia kesepuluh tahun, SHT meluncurkan rute baru, yang akan mulai dilaksanakan pada 3 September 2019. Trackers (penumpang bis) dapat menikmati dan mengenal sejarah kota Surabaya yang terkenal sebagai kota pahlawan, kisah Babad Surabaya, serta kekayaan ragam budaya khas Arek, yang diwujudkan dalam 6 tur reguler setiap hari Selasa hingga Minggu. Rute baru ini, dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran akan potensi sejarah dan wisata bangunan maupun kawasan cagar budaya lainnya di Surabaya, juga untuk menunjukkan semangat pergerakan arek-arek Suroboyo yang multikulural, serta identitas kota Surabaya sebagai kota pendidikan, perdagangan dan pelabuhan.

Dengan arti ‘Menelusui Jejak Warisan Surabaya’, program Surabaya Heritage Track (SHT) diluncurkan di tahun 2009 dengan konsep tur keliling kota menggunakan bis bermodel kereta trem yang pernah berjalan di Surabaya tempo dulu. Program yang pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia ini ditujukan untuk memperkenalkan konsep ‘Museum Luar Ruang’ dengan menunjukkan bangunan cagar budaya disekeliling House of Sampoerna (HoS), serta menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata Surabaya.

Dalam upaya untuk terus mendukung Surabaya sebagai destinasi wisata, sejak 2010 SHT telah menyelenggarakan 47 Tur Tematik  yang diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. Termasuk di antaranya adalah ‘We Love Book’ yang diselenggarakan pada Hari Pendidikan Nasional, ‘Visit Museum’ untuk memperingati Hari Museum Internasional, maupun ‘Heroic Track’ selama bulan November untuk memperingati Hari Pahlawan. Dalam perjalanannya SHT telah mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya, baik museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik, dan lain sebagainya.

 

Rute Tur Selasa s.d. Kamis

Tur I:

Surabaya Kota Pendidikan

Tur II:

Surabaya Kota Pahlawan

Shift III:

Surabaya Kota Pelabuhan

10:00-11:00 13:00-14:00 15:00-16:00
HoS – Kantor Telkom Garuda – Sekolah Ongko Loro – HoS HoS – Taman Sejarah – Tugu Pahlawan – HoS HoS – Menara Pantau Kalimas – Pasar Pabean – HoS
· Melalui Rajawali ke Garuda

· Berhenti di Telkom Garuda

· Melalui Veteran ke Bubutan

· Berhenti Kampung  Maspati

· Melalui Indrapura kembali ke HoS

· Melalui Rajawali ke Taman Sejarah

· Berhenti di Taman Sejarah

· Melalui Veteran ke Pahlawan

· Berhenti di Tugu Pahlawan

· Melalui Indrapura kembali ke HoS

· Melalui Rajawali ke Kmbang Jepun

· Berhenti di Kembang Jepun

· Melalui Dukuh ke Sultan Iskandar Muda

· Melalui Kalimas Barat kembali ke HoS

Destinasi:

– Telkom Garuda

– Kampung Maspati

Destinasi:

– Taman Sejarah

– Tugu Pahlawan

Destinasi:

– Menara Pantau

– Pasar Pabean

Materi Cerita:

Surabaya Kota Pendidikan

Surabaya sudah menjadi pusat pendidikan sejak masa Sunan Ampel. Menerapkan sistim pembelajara nyantrik, berbondong-bondong orang berguru ilmu agama di Surabaya. Memasuki masa kolonial kebutuhan akan institusi pendidikan yang lebih lengkap semakin meningkat. Hal tersebut disebabkan posisi Surabaya sebagai kota pelabuhan yang membutuhkan banyak tenaga terdidik sebagai pegawai, meskipun hanya kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung.

Surabaya Kota Pahlawan

Kedatangan Sekutu di Surabaya pada 25 Oktober 1945 menjadi jalan kembali masuknya tentara NICA untuk kembali menduduki Indonesia. Rakyat Surabaya yang menolak dengan tegas upaya tersebut memberikan perlawanan kuat hingga menewaskan pimpinan tertinggi Sekutu, Jenderal AWS. Mallaby, pada pertempuran 3 hari di bulan Okktober 1945. Meletusnya pertempuran 10 November menjadi pembuktian keinginan Arek-arek Suroboyo untuk merdeka.

Surabaya Kota Pelabuhan – Niaga

Hilir mudik arus pelayaran yang masuk ke Kalimas sejak masa Kerajaan Majapahit menjadikan Surabaya pintu gerbang perdagangan yang diperhitungkan di Nusantara. Di masa kolonial Surabaya dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung seperti menara pantau, pasar, pergudangan, juga pelabuhan yang lebih memadai untuk menunjang perannya sebagai kota collecting centre, menerima beraneka komoditi yang akan masuk diedarkan ke Nusantara, maupun komoditi yang akan dikapalkan ke pasar internasional.

 

Rute Jumat s.d. Minggu

Tur I:

Kampung dari Seberang

Tur II:

Surabaya Kampung Metropolitan

Shift III:

Gerbang Keraton Surabaya

10:00-11:30 13:00-14:30 15:00-16:30
HoS – Kawasan Pecinan – Kawasan Ampel – HoS HoS – Kampung Peneleh – Kampung Ketandan – HoS HoS –  Kampung Keraton – Kampung Tumenggungan – Kampung Bubutan  – HoS
· Melalui Rajawali ke Karet

· Berhenti di Karet

· Melalui Kembang jepun ke Dukuh

· Berhenti di Ampel

· Melalui Iskandar Muda ke Benteng

· Melalui Kalimas Barat kembali ke HoS

· Melalui Rajawali ke Pasar Besar

· Berhenti di Kampung Peneleh

· Melalui Gemblongan ke Tunjungan

· Berhenti di Kampung Ketandan

· Melalui Embong Malang ke Bubutan

· Melalui Indrapura kembali ke HoS

· Melalui Rajawali ke Pahlawan

· Berhenti di Kampung Keraton

· Melalui Gemblongan ke Bubutan

· Berhenti di Kampung Bubutan

· Melalui Indrapura kembali ke HoS

Destinasi:

– Kawasan Pecinan

– Kawasan Ampel

Destinasi:

– Kampung Peneleh

– Kampung Ketandan

Destinasi:

– Kampug Keraton

– Kampung Tumenggungan

– Kampung Bubutan

Materi Cerita:

Kampung dari Seberang

Pada tahun 1843, Belanda memberlakukan Wijkenstelsel atau pembagian wilayah pemukiman di Kota Surabaya berdasarkan ras atau etnis penduduknya. Kalimas sendiri digunakan sebagai pembatasnya, dimana sisi Barat diperuntukkan bagi pemukiman orang Eropa, sedangkan sisi Timur dari Kalimas dikhususkan bagi masyarakat Timur Asing (Vremde Oosterlingen) yang terdiri dari pemukiman masyarakat etnis Tionghoa dan Arab. Adanya kebijakan ini berdampak pada segregasi kawasan hunian bagi orang Eropa, Tionghoa dan Arab yang masih tampak jelas dari arsitektur bangunan yang hingga sekarang masih ada. Pemisahan wilayah tersebut juga berdampak pada budaya dan tradisi masyarakat yang terus berkembang.

Surabaya Kampung Metropolitan

Surabaya merupakan metropolis besar dengan jaringan kampung yang bermula di sepanjang Kali Mas menjadi asal-usulnya. Sebut saja Kraton Surabaya yang berpusat tak jauh dari Kali Mas, dengan kampung-kampung kecil penopang yang juga tersebar di sekitar kawasan sungai tersebut. Seperti Peneleh, Maspati, Carikan, Plampitan Bubutan maupun Ketandan. Eksistensi kampung-kampung tersebut hingga kini masih bisa ditelusuri dan menjadi wujud preservasi kota Surabaya.

Gerbang Keraton Surabaya

Tata ruang Keraton Surabaya disusun berdasarkan paham kosmologi konsep budaya Jawa, dimana penataannya mengikuti suatu pola dasar yang memperhatikan empat arah mata angin dengan suatu anggapan bahwa kota merupakan suatu organisme hidup dan dianalogikan sebagai tubuh manusia berupa kepala, badan dan kaki. Utara merupakan simbol dari Kepala yang menunjukkan hal resmi dan kebesaran. Selatan menyimbolkan keluarga serta keturunan. Sisi Timur melambangkan hal keduniawian serta pekerjaan, sedangkan Barat merupakan perlambang kejiwaan dan rohaniah. (wh)

Berikan komentar disini