Ini Rahasia Sukses Pep Guardiola di Munchen

Ini Rahasia Sukses Pep Guardiola di Munchen

 

Banyak  yang bertanya, apa alasan Pep Guardiola saat setuju meneriwa tawaran melatih Bayern Munchen awal musim lalu?  Sebagian meyakini, tawaran itu tak memiliki tantangan apapun; salah satu aspek yang kerap disampaikan pelatih asal Spanyol ini untuk memacu adrenalinnya.

Ya, Bayern sebelum Pep Guardiola masuk, Tim Bavaria ini  memang sudah digdaya. Dibawah besutan Jupp Heynckes,  musim lalu, Hollywood FC telah mengoleksi treble winner. Salah satunya gelar juara Liga Champions.  So, apa  yang hendak dibangun Pep Guardiola bersama tim yang sudah mapan dan kuat seperti itu?

Waktu berjalan. Pep Guardiola ternyata mampu mendefinisikan secara pas tantangan apa yang dimaksud. Di saat, orang luar  menutup  celah akan adanya tantangan, mantan arstitek Barcelona ini justru membuka   mata akan adanya tantangan besar  pada tim sekuat dan sehebat  Bayern Munchen.  Apa itu? Menjadikan  Bayern Munchen lebih hebat dan kuat.

Hasilnya memang terasa. Di Liga Domestik, Bayern Munchen mampu menorehkan rekor baru sebagai tim yang belum tersentuh kekalahan. Produktifitas gol tinggi karena barisan penyerang yang garang. Di Liga Champions, Munchen dijagokan mampu mengakhiri kutukan dengan  kembali mempertahankan juara. Sesuatu yang sulit digapai tim-tim juara bertahan sebelum ini sejak 1992 lalu.
Berikut ini adalah hal-hal yang telah dilakukan Guardiola untuk menjadikan Bayern semakin tangguh dan dominan, seperti dikutip dari The Guardian.

1.  Sulit Diprediksi

Di bawah Louis van Gaal, penanam fondasi possession game Bayern, dan Jupp Heynckes, penerusnya yang cenderung lebih pragmatis, formasi dasar The Bavarians gampang ditebak. Keduanya selalu memainkan skema 4-2-3-1, hanya mengubah line-up kalau penggawa reguler cedera, dan memasang pemain berkarakteristik serupa sebagai gantinya. Ketentuan semacam itu lenyap di tangan Guardiola. Cuma back-four yang jarang sekali diutak-atik. Transformasi Philipp Lahm menjadi jangkar tampak permanen, tapi kenyataannya tidak demikian.

Dengan kembalinya Javi Martinez dan Bastian Schweinsteiger dari cedera,
amat memungkinkan sang kapten bakal kembali ke pos bek kanan memasuki pengujung musim. Namun saat fit sekalipun Martinez dan Basti, juga Thiago Alcantara serta Toni Kroos, beberapa kali diinstruksikan mengisi peran berbeda-beda di lini tengah. Nama pertama bahkan sesekali dipasang di jantung pertahanan. Di kedua sayap, Arjen Robben dan Franck Ribery masih jadi pilihan utama, tapi mereka bukannya tidak tergantikan. Rotasi konstan, tergantung level kekuatan lawan, khususnya dilakukan Pep untuk dua posisi gelandang serang di belakang striker dalam formasi 4-1-4-1 andalannya.

2.  Kekuatan Inovasi

Filosofi Pep memang dilandaskan pada penguasaan bola lewat umpan-umpan pendek menyusur tanah plus pressing agresif dengan garis pertahanan tinggi. Tapi ia tak ragu untuk mengesampingkan prinsip tersebut kalau memang diperlukan. Dalam kemenangan 3-0 atas Borussia Dortmund di Signal Iduna Park pada November silam. Pep dengan sengaja menginstruksikan duet bek tengah untuk mengirim umpan-umpan panjang dari wilayah sendiri guna mengakali gaya counter-pressing Die Borussen.  Dan Martinez yang berpostur tinggi diposisikan sebagai “No. 10” di belakang Mario Mandzukic untuk memenangi bola-bola udara.

Saat ritme permainan lawan terganggu, dengan cerdik Pep memodifikasi kembali sistemnya dan mengganti Mandzukic dengan Mario Gotze sebagai “false nine” untuk memaksimalkan ruang yang mulai terbuka. Hasilnya, Gotze melesakkan gol pemecah kebuntuan dan pada akhirnya Bayern memetik kemenangan meyakinkan.

Itu hanya satu dari perubahan-perubahan kecil dan terperinci yang kerap dilakukan Guardiola sebelum dan selama laga berlangsung. Xavier Sala-i-Martín, seorang profesor ekonomi kelahiran Catalan, mengomparasikan “kekuatan inovasi” Guardiola dengan proses produksi dengan fleksibiltas tinggi dari Zara, merek fesyen tenar dari Spanyol. Walau terbilang lebih mahal ketimbang pesaing, produksi Zara jauh lebih sering berubah, sejalan dengan tren atau bahkan tren mikro. Output yang dihasilkan Zara maupun Bayern di bawah komando Pep tetap berasal dari sebuah kerangka kerja besar, tapi fleksibilitas di dalam kerangka kerja tersebut tidak kalah pentingnya.

3. Radikal dan Pro Aktif di Selama Laga

Musim lalu, pergantian pemain yang dibikin Heynckes hanya itu-itu saja. Saat Bayern sudah memimpin, sang bos bakal menarik keluar salah satu pemain ofensif dan menyuntikkan Luiz Gustavo, seorang gelandang bertahan, dengan Schweinsteiger didorong lebih ke depan. Bukan berarti itu salah karena keputusan yang diulang-ulang tersebut terbukti manjur sampai akhir musim, termasuk dalam final Liga Champions di Wembley.

Berbeda dengan sang pendahulu, Guardiola jauh lebih radikal dan proaktif terkait substitusi pemain. Tidak cuma personel, ia bahkan rutin menggonta-ganti posisi dan formasi di pertengahan laga kalau merasa kubu lawan telah menemukan cara untuk menanggulangi rencana awalnya. Bukti konkret bisa dilihat dalam kemenangan 4-1 atas Mainz, Oktober silam, ketika seorang Philipp Lahm memainkan hingga empat posisi berbeda di satu laga. Intervensi Guardiola yang terlalu sering kadangkala berimbas negatif pada sepakbola mengalir usungan Bayern, tapi hasil akhirnya cenderung positif.

4. Beragam Opsi di Lini Depan

Tak sedikit yang berasumsi negatif bahwa Bayern rela mengucurkan dana sampai €37 juta untuk Mario Gotze hanya demi melucuti kekuatan Borussia Dortmund. Namun seiring waktu semakin kentara alasan Guardiola begitu menginginkan Gotze, atau pemain bertipe Gotze yang sangat pas untuk memainkan peran “striker palsu”. Memplot bintang muda Jerman 21 tahun itu di sektor depan memudahkan upaya Bayern untuk membongkar lawan yang tampil negatif dengan menumpuk pemain dekat area penalti. Dengan skill primanya Gotze dapat menggoreng bola melewati bek-bek musuh atau bergerak melebar untuk mendukung kinerja para winger. Ia juga dapat membantu tim mengontrol tempo dan bola dengan bermain agak ke dalam.

Di samping Gotze, Guardiola juga beberapa kali menugaskan Thomas Muller untuk memimpin garis depan. Keputusan ini terutama membuahkan sukses besar tatkala melawat ke Etihad Stadium dengan Muller memainkan peran sentral untuk membawa Bayern mengalahkan tuan rumah Manchester City 3-1. Posisi Muller sendiri sejatinya sulit didefinisikan lantaran pemain satu ini punya mobilitas sangat tinggi dan tak pernah bergerak statis di lapangan, tapi bisa dibilang ia lebih bertipe forward ketimbang false nine. Apa pun, yang jelas penggunaan Gotze dan Muller memperkaya variasi opsi Bayern di lini depan selain Mandzukic sebagai ujung tombak.

5. Tutupi Titik Lemah

Bergesernya Lahm ke tengah menghasilkan kesempatan jauh lebih banyak untuk Rafinha, bek kanan yang musim lalu hanya berstatus pelapis. Ketimbang David Alaba yang sangat cepat dan eksplosif di kiri, pemain Brasil itu tidak terlalu menonjol dan kerap dipandang sebagai titik lemah tim. Guardiola toh tidak kehabisan ide. Ia menutupi kelemahan Rafinha, sekaligus memaksimalkan kelebihan Alaba — yang mengawali karier dan masih rutin bermain sebagai gelandang bersama timnas Austria — dengan menginstruksikan kedua pemain bergerak ke tengah lapangan alih-alih melebar saat naik membantu serangan. Dengan demikian, Rafinha jadi jarang terekspos dan Alaba dapat menunjukkan kemampuannya sebagai midfielder.

Bayern pun memiliki opsi jauh lebih banyak di tengah yang berujung meningkatnya dominasi possession, sementara sayap-sayap lawan dibuat bingung, apakah mereka juga harus bergerak ke dalam atau mengkover ruang di depan full-back masing-masing. Dalam beberapa laga terakhir, Rafinha dan Alaba kembali bermain sebagaimana full-back pada umumnya, tapi strategi ini terbukti ampuh di paruh awal musim dan bukan tak mungkin digunakan lagi di masa datang.(ram)