Ini Peta Penggunaan Internet Dunia

Ini Peta Penggunaan Internet Dunia

Seberapa  banyak manusia di dunia yang tercover dengan jaringan Internet?  Pertanyaan  ini akhirnya ditemukan jawabannya. Adalah seorang ahli IT Amerika Serikat, John Martherly yang melakukannya.   Dia berhasil memetakan internet secara global. Hasilnya, secara keseluruhan ada sekitar sepertiga penduduk dunia telah terkoneksi dengan perangkat yang terhubung dengan internet.

Hal ini membuktikan telah terjadi revolusi berkomunikasi, bahwasanya internet menjadi tempat baru bagi manusia sebagai wadah untuk berinteraksi satu sama lain.

Seperti yang diberitakan Daily Mail, Minggu 31 Agustus 2014, hasil pemetaan penggunaan internet secara global ini menggunakan Shodan.  Ini merupakan mesin pencari yang dirancang untuk mencari perangkat dan sistem komputer yang terhubung dengan World Wide Web.

Untuk menemukan hasil pemetaan tersebut, Martherly, seorang kartografer, melakukan ‘ping’ yang dikirim ke router, daripada setiap gadget, ini dikarenakan kata Martherly, smartphone seperti iPhone dan Android sudah terdeteksi sebelumnya.

Ping ini ditujukan untuk mengirim sinyal ke semua server pada perangkat, sehingga koneksinya akan menyala dan terdeteksi oleh Shodan, meskipun tidak menyala secara fisik.

Ketika akan memetakannya, Martherly membutuhkan kurun waktu setidaknya sekitar lima jam untuk melakukan ping ke semua IP address di dunia. Kemudian setelah mendapatkan hasilnya, untuk memetakannya ia mengahabiskan waktu lebih dari 12 jam,

Dari pemetaan itu terlihat ada tiga warna yaitu merah, hijau, dan hitam untuk mengindetifikasikan penggunaan internet. Merah menandakan daerah yang terkoneksi dengan lancar dan hal itu terdapat di kota-kota besar di negara maju.

Untuk hijau mempunyai arti lebih sedikit yang terkoneksi dengan internet. Sedangkan, warna hitam menandakan tidak ada sinyal yang diterima atau tidak masif penggunaan internetnya seperti di benua Afrika.

Ketiga warna itu berupa titik-titik di kota-kota untuk setiap IP address yang diterima, maka titik-titik itu akan mudah dilihat karena dapat memisahkan daerah yang sudah ‘terjangkit’ internet dan yang
belum.

Martherly menjelaskan peta yang dibuatnya tidak semua akurat, karena ada beberapa pihak yang memblokir permintaan ping. Seperti yang terjadi di China, yang seharusnya berwarna terang malah tampak gelap. “Ada dasarnya, tidak banyak informasi yang tersedia mengenai IP address di China, yang membuat pemetaan sangat sulit. Mayoritas perangkat hanya bisa dikelompokkan di (daerah) Shanghai atau Beijing, meskipun mereka mungkin berada di tempat lain di dalam negeri,” ungkapnya.

Pendiri Shodan tersebut meminta kepada setiap pengguna komputer, smartphone, tablet, dan konsol game dapat mengirimkan lokasi mereka, sehingga ia bisa membuat peta yang lebih akurat lagi.

Martherly menambahkan bahwa tidak hanya dia saja yang bisa memetakan pengguna internet secara global. Ia menjelaskan setiap orang bisa melakukannya sendiri dengan menggunakan open source scanner bernama Zmap. (vva/ram)