Ini Langkah Pemkot Surabaya Tiga Tahun Tutup Lokalisasi

Ini Langkah Pemkot Surabaya Tiga Tahun Tutup Lokalisasi

Para pejabat memberikan keterangan pers di kantor humas Pemkot Surabaya, Senin (1/5/2017). foto:humas pemkot surabaya

Penutupan lokalisasi di beberapa tempat di Surabaya untuk dialihkan menjadi fungsi pemberdayaan masyarakat dilaksanakan secara berkelanjutan. Tidak cepat berpuas diri dengan menutup lokalisasi saja, namun kini dibangun beberapa sarana untuk membuat warga yang bermukim di sana bisa survive.

“Kondisi dulu kurang bagus karena lokalisasi sendiri berhimpitan langsung dengan warga dan perkampungan. Ada yang ibunya penjual kopi dan anaknya yang mengantar ke wisma. Usaha Bu Risma sangat tepat sekali melakukan pemberdayaan mulai pelatihan membuat kerajinan,” kata Camat Benowo Musdiq di Humas Pemkot Surabaya dalam acara jumpa pers, Senin (1/5/2017).

Mantan camat Sawahan tersebut menyebutkan, untuk kawasan bekas lokalisasi di Benowo sekarang telah dibangun Broadband Learning Center (BLC), rumah kreatif, sentra UKM 50 stand yang akan diisi 45 warga.

“Selain itu Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan membeli 8 rumah disana untuk dipakai warga berkegiatan positif. Juga disana dibangun 2 lapangan futsal oleh pihak Dinas Pemuda dan Olahraga,” urainya.

Senada, M Yunus Camat Sawahan mengatakan dirinya masuk sejak 2015 dan itu berarti penutupan lokalisasi telah selesai dilaksanakan. Yunus mengaku kini pihaknya berkonsentrasi tetap menjaga agar suasana di sana tetap kondusif.

“Tidak hanya melakukan penertiban tetapi lebih ke pemberdayaan. Terus lakukan koordinasi dengan Satpol PP dengan melakukan operasi setiap malam. Kami tidak mungkin lakukan tindakan reprensif terus. Untuk pemberdayaan batik, rata-rata sebulan laku 5-7 lembar kain dan tempe jarwo laku 20 kilogram,” kata Yunus. Yang menyebutkan untuk menyambut HJKS ditempatnya tahun ke 2 ini akan mengadakan majlis zikir pada 15 Mei nanti.

Selain itu pihaknya juga bekerjasama dengan Disparta Surabaya melakukan pelatihan bahasa agar saat bule datang naik kapal pesiar bisa mengerti pembicaraan.

“Kami berdayakan karang taruna untuk menjelaskan masing-masing wilayah,” ujar Yunus.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya Irvan Widyanto yang juga menjabat Plt BPD Linmas Surabaya mengatakan, penutupan lokalisasi di merupakan tekad dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Ini tekad kuat dari Pemkot Surabaya untuk Dupak, Klakah, Sememi dan terakhir Dolly. Tekad kuat wali kota yang didukung oleh masyarakat. Di Dolly dulu, Lebaran hari kedua mereka nekat buka. Ada ancaman mobil Satpol PP bila ke sana akan dibakar dan melakukan perlawanan besar. Akhirnya Bu Risma bilang ke saya bila gak berani nutup, maka ibunya datang sendiri. Dolly tak mudun dewe nyeleh pentungan,” kata Irvan, mengenang. (wh)