Ini Kurikulum Sekolah di Wilayah ISIS

 

Ini Kurikulum Sekolah di Wilayah ISIS

Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah menetapkan tahun ajaran baru mulai 9 September lalu di sejumlah wilayah di Irak dan Suriah yang mereka kuasai. Dalam kurikulum pendidikan yang diberikan, ISIS melarang keras semua lagu kebangsaan dan lagu wajib nasional yang mengajarkan patriotisme.

Di Raqqa, Suriah, kelompok yang juga dikenal sebagai ISIS itu menerapkan kurikulum baru dengan menghapus beberapa pelajaran seperti filsafat dan kimia, serta memodifikasi pelajaran sains agar sesuai dengan ideologi mereka.

Di Mosul, sekolah-sekolah dipaksa menerapkan aturan baru yang tercantum dalam buletin dua halaman dan ditempel di masjid, pasar atau tiang listrik. Buletin tertanggal 5 September itu berbunyi antara lain: “kabar baik tentang terbentuknya Dewan Pendidikan Negara Islam oleh sang kalifah yang bertekad memberantas kebodohan dan menyebarkan sains religi untuk melawan kurikulum yang telah usang.”

Kurikulum di Mosul ini diduga dibuat sendiri oleh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Dalam panduan kurikulum, setiap rujukan ke republik Irak atau Suriah harus diganti dengan “Negara Islam.”

Gambar-gambar dalam buku yang melanggar interpretasi Islam ultra-konservatif akan dirobek. Lagu kebangsaan dan lirik yang mendorong rasa cinta tanah air dianggap sebagai “hal musyrik dan menodai” agama, serta dilarang keras.

Bisa ditebak, kurikulum baru juga tegas melarang teori evolusi Charles Darwin, meskipun teori ini sebelumnya juga tidak diajarkan di sekolah-sekolah di Irak.

Dalam selebaran 5 September itu “Kalifah” al- Baghdadi juga menyerukan kelompok profesional di Irak dan di luar negeri untuk “mengajar dan melayani kaum Muslim agar bisa memajukan rakyat Negara Islam di bidang agama dan semua sains. “

Pemisahan gender bukan hal baru di sekolah-sekolah Irak, di mana umumnya murid berusia 12 tahun dipisahkan menurut jenis kelamin. Namun di Mosul, panduan kurikulum ISIS mengatakan guru-guru juga harus dipisahkan. Guru laki-laki mengajar murid laki-laki, guru perempuan mengajar murid perempuan.

Edaran kurikulum baru ini diakhiri dengan peringatan keras disertai ancaman. “Pengumuman ini sifatnya mengikat. Siapa saja yang melanggar akan menghadapi hukuman,” bunyi selebaran itu.

Kementerian Pendidikan di Baghdad mengatakan mereka nyaris tidak punya kontak dengan Mosul dan kota-kota lain di hampir sepertiga wilayah negara itu karena telah dikuasai ISIS.

“Situasi di Mosul sangat sulit karena terlalu bahaya bagi kami untuk mengetahui persisnya apa yang terjadi di sana,” kata Salama al-Hassan, juru bicara kementerian.

Di seluruh penjuru Irak, tahun ajaran baru diundur satu bulan karena banyak gedung sekolah telah diubah menjadi tempat penampungan pengungsi dari kota-kota yang direbut ISIS. Di Baghdad saja, 76 gedung sekolah menjadi tempat penampungan, ujar wanita itu.

Menurut kantor berita The Associated Press, banyak murid di Mosul tidak datang ke sekolah pada permulaan tahun ajaran baru yang ditetapkan 9 September. “Yang penting bagi kami sekarang adalah anak-anak terus mendapat pendidikan secara benar, bahkan meskipun mereka harus kehilangan satu tahun ajaran penuh dan juga tidak mendapat ijasah,” kata seorang warga yang mengaku bernama Abu Hassan. Dia dan istrinya memilih melakukan home schooling untuk anak-anak mereka dengan mencari buku pustaka di pasar. (bst/ram)