Ini Informasi Terakhir Teknisi AirAsia kepada Keluarga

Ini Informasi Terakhir Teknisi AirAsia kepada Keluarga
Keluarga Teknisi AirAsia QZ8501, Saiful Rahmad saat tiba di Posko Crisis Center Bandara Juanda II Surabaya, Rabu (31/12/2014).

Keluarga besar Teknisi AirAsia QZ8501, Saiful Rahmad (38), masih belum menyangka bahwa pria yang sudah bekerja selama 8 tahun di maskapai milik Tony Fernandes tersebut turut dalam deretan korban jatuhnya pesawat di Perairan Teluk Kumai, Minggu (28/12/2014).

Seperti saat datang di Posko Crisis Center Bandara II Juanda Surabaya, para saudara Saiful masih berharap bapak tiga anak itu bisa selamat dari kecelakaan.

Nunung (47), kakak kedua Saiful terus terisak saat tiba di Bandara Juanda, Rabu (31/12/2014). Bersama dengan dua saudara lainnya, yakni Yulawati dan Lia Yudana yang juga menahan tangis, Nunung tampak menjinjing tas koper besar dan masuk ke dalam ruang Posko Crisis Center.

Di Posko Crisis Center Bandara Juanda tersebut mereka dijadwalkan untuk sidik jari dan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) di DVI (Disaster Victim Identification) yang dibentuk Polda Jawa Timur bersama Pemkot Surabaya. Tiga bersaudara tersebut kemudian bertemu dengan para wartawan yang sepanjang hari bersiaga di posko AirAsia QZ8501 tersebut.

Kepada wartawan Nunung dan kedua saudaranya menceritakan bahwa pihaknya melakukan kontak terakhir dengan Saiful pada Jumat (26/12/2014) atau dua hari sebelum kejadian.

“Dia telepon saya. Waktu itu dia menasihati saya untuk hati-hati saat naik kapal karena cuaca lagi tidak bersahabat dan ombak sedang tinggi. Waktu itu dia teleponnya lama sekali, kan saya mau berlibur ke Balikpapan,” kenang Lia.

Lia dan saudara lainnya tidak menyangka jika itu adalah kali pembicaraan terakhirnya dengan sang adik bungsu, Saiful. Padahal diceritakan oleh Nunung sembari menahan isak tangis bahwa Saiful beserta istri dan ketiga anaknya berencana bertolak ke Pekanbaru, untuk merayakan tahun baru di kampung halaman bersama seluruh sanak saudara.

“Rencananya kami akan Pekanbaru semua keluarga kumpul di akhir Desember ini,” cetus Nunung. Dia pun kembali mengusap air matanya yang hampir terjatuh lalu kembali menceritakan dengan pelan bahwa terakhir kali bertemu dengan Saiful pada Juli lalu.

“Kami tetap optimis bahwa Saiful bisa selamat dari musibah ini. Saya masih punya keyakinan. Mudah-mudahan ada harapan hidup untuk adik kami,” tuturnya terbata-bata.

Suasana tampak tercekat seketika di balik keramaian Posko Crisis Center Bandara Juanda. Wartawan yang melakukan wawancara dengan Nunung diam sejenak lalu membiarkan Nunung beserta kedua saudaranya bercerita tentang Saiful. Dalam suasana haru tersebut, Nunung masih ingat semasa kecil sosok Saiful adalah pria yang manja.

Pria bungsu, dari enam bersaudara tersebut diakui oleh Nunung adalah sosok yang sangat manja. Kerap kali semasa kecilnya Saiful merengek karena meminta sesuatu. “Saat sudah dewasa ini dia justru menjadi pengayom kami karena kedua orang tua sudah tidak ada. Dia baik sekali, dia mengayomi kami,” katanya.

Bentuk-bentuk pengayoman yang dilakukan Saiful di antaranya kerap menasehati lima saudara perempuannya yang sudah tinggal terpisah. Teknisi yang sebelumnya juga bekerja di Mandala Air ini tidak lupa untuk telepon saudaranya dan mengingatkan agar tidak lupa ibadah. “Dia bukan ustadz tapi ibadahnya sangat kenceng,” akunya.

Selain itu, biasanya saat awal semester masuk sekolah baru, Saiful tidak pernah lupa untuk peduli ikut mencarikan keponakannya sekolah-sekolah favorit. “Bahkan kami saja orang tuanya sampai kalah perhatian,” ujarnya.

Saat ini Nunung dan para saudaranya hanya bisa pasrah dan berharap keajaiban akan datang menyelamatkan Saiful. Terutama bagi istri Saiful dan ketiga anaknya yang masih sekolah dasar, TK, dan masih usia dua tahun. “Yang sulung itu namanya Najwa, Zizu, dan Arkhan, mereka saat ini di posko Crisis Center Bandara Juanda Surabaya,” tambah Nunung.

Sampai berita ini ditulis belum ada perkembangan dari pencarian korban selamat di pesawat AirAsia QZ8501. Terakhir kalinya, tim Gabungan menemukan 7 jenazah, dan 2 di antaranya sudah berada di Pangkalan Bun dan 5 lainnya masih dibawa dalam perjalanan oleh KRI Bung Tomo.

“Koordinasi dengan tim di lokasi informasinya di saya masih 7 korban. 2 sudah di evakuasi, 5 masih di KRI. Silahkan kontak di posko pusat. Belum tahu saya, kalau sudah ke sini pasti datang ke sini yang jelas infonya cuaca saat ini sedang buruk. Perjalannya dari Teluk Kumai ke Pangkalan bun sejauh 95 kilometer. kami sudah siap semua di sini menunggu,” imbuhnya. (wh)