Ini Faktor yang Menyebabkan Inflasi Jatim Meningkat

Ini Faktor yang Menyebabkan Inflasi Jatim Meningkat

Teks: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jatim Difi Ahmad Johansyah dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialoue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/6/2017).

Tahun 2017, nilai inflasi Jawa Timur dapat menyentuh angka 0,59 persen. Nilai tersebut diprediksi meningkat menjadi 0,77-0,87 persen.

“Peningkatan nilai inflasi yang dialami wilayah Jawa Timur tersebut disebabkan penyesuaian tarif dasar listrik yang ternyata sangat berdampak pada perkembangan perekonomian,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jatim Difi Ahmad Johansyah dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/6/2017).

Difi lalu menjelaskan, awalnya Bank Indonesia memprediksi kenaikan nilai inflasi Jawa Timur dipengaruhi hasil pangan. Itu terjadi saat kelangkaan hasil pangan, beberapa waktu lalu.

“Memang mempengaruhi kondisi pereknomian, tapi efeknya tidak terlalu signifikan pada naiknya nilai inflasi Jawa Timur,” tandas Difi

Dia lalu menyebutkan momen Ramadan dan Lebaran juga mempengaruhi inflasi. Pasalnya, momen ini dipakai mayoritas masyarakat orang berbelanja. Pada momen tersebut, banyak masyarakat yang mendapatkan gaji ke-13 atau bahkan gaji ke-14.

“Yang harus diperhatikan oleh masyarakat adalah antisipasi dari efek samping momen tersebut. Kita harus dapat lebih bijak dalam mengeluarkan uang kita,” paparnya Difi yang juga merupakan Direktur Eksekutif Pengarah Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jatim itu.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya yang memandu acara, menjelaskan bahwa gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif sangat berpengaruh pada perputaran uang di Jawa Timur. Belum lagi pada Hari Raya Lebaran, masyarakat Indonesia juga melakoni budaya mudik.

“Budaya mudik bukan hanya untuk mereka yang bekerja di luar daerah. Mereka yang bekerja di luar negeri pun juga bakal pulang dengan membawa pemasukan atau devisa. Dengan kata lain, uang yang ada di pasaran pasti bakal bertambah jumlahnya,” kupas Kresnayana.

Kresnayana menyambut baik upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pokok di pasaran. “Dengan adanya satgas pangan, lalu maraknya gerebek pasar yang dilakukan oleh pemerintah membuat harga pokok bahan makanan di pasaran kini sangat stabil. Hal itru sangat berpengaruh bagi kondisi perekonomian kita. Terutama menjelang Lebaran,” tegasnya. (wh)