Ini Faktor yang Membuat Rupiah Terpuruk

Ini Faktor yang Membuat Rupiah Terpuruk
foto:okezone

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Persero (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, pelemahan rupiah di akhir 2014 ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.

Faktor internal itu adalah ekspektasi inflasi yang cenderung tinggi pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, besarnya rasio defisit transaksi berjalan (DTB) terhadap produk domestik bruto (PDB) yang berkisar 3,2 persen sementara ambang batas yang ideal adalah 3 persen, dan kebutuhan pembayaran kewajiban utang luar negeri (ULN) oleh korporasi swasta yang jatuh tempo menjelang tutup buku.

Celakanya, mayoritas ULN ini ada di kalangan korporasi swasta yang sebagian ULN-nya tidak diproteksi dengan skema lindung nilai (hedging). Selain itu, sebagian kelompok kaya di Indonesia membeli dolar AS untuk berbagai keperluan seperti liburan ke luar negeri.

Sedangkan faktor eksternal itu adalah rencana normalisasi kebijakan The Fed melalui penaikan suku bunga The Fed di Amerika Serikat, jatuhnya harga minyak dunia yang amat tajam dari yang lazimnya di atas USD 100 per barel menjadi USD 65 per barel, ketegangan politik di Rusia pasca-aneksasi wilayah Kremia dan ketegangan politik di Timur Tengah yang menyebabkan pelaku pasar global memburu dolar AS sebagai safe heaven.

Selain itu, berlakunya rezim suku bunga ultra rendah (bahkan sampai minus 2 perse) di kawasan Uni Eropa membuat mata uang euro tertekan terhadap dolar AS. Hal ini memberikan imbas negatif ke mata uang Asia, termasuk rupiah.

“Kombinasi faktor internal dan eksternal itulah yang membuat pergerakan kurs rupiah belakangan ini mengalami tekanan.

Memang cepat atau lambat posisi dolar AS akan kembali ke titik keseimbangan atau ekuilibrium baru terhadap seluruh mata uang di dunia. Sekali lagi, pemerintah AS tentu tidak nyaman juga kalau dolar AS terlalu kuat dibandingkan mata uang negara-negara lainnya,” ungkap Ryan Kiryanto.

Ryan Kiryanto mengatakan, perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjelang akhir 2014 ini memang menarik dicermati. Ini karena pergerakannya yang aneh dan kontroversial, yaitu pelemahan rupiah terjadi ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) justru menguat cukup signifikan. Logikanya, ketika bursa saham domestik bergairah dan menembus level 5.200-an, maka akan memberikan efek positif secara langsung ke kurs rupiah berupa penguatan atau apresiasi. Investor asing tentu akan mengkonversikan dolarnya ke rupiah untuk bertransaksi saham di pasar modal. Faktanya, teori itu tidak terjadi di Indonesia.

“Jadi, pasti ada sesuatu hal yang membuat IHSG menguat, namun sebaliknya rupiah malah melemah. Ini beda dengan pergerakan suku bunga versus indeks saham. Jika suku bunga bank naik, umumnya pergerakan IHSG akan melemah. Tapi kalau indeks saham menguat, tapi kurs rupiah malah melemah, tentu ada sebabnya,” kata dia. (bst/ram)