Ini Faktor Kunci Di Era Perang Dagang

Ini Faktor Kunci Di Era Perang Dagang

Isdarmawan Asrikan dan Doddi Madya Judanto. foto: arya wiraraja/enciety.co

Daya saing produk impor menjadi hal yang menentukan untuk mengangkat potensi ekspor. Hal itu ditegaskan Direktur Utama Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (21/6/2019).

“Indonesia khususnya Jawa Timur punya potensi pasar yang cukup besar.  Ini jadi hal menarik. Logikanya, jika nilai tukar mata uang kita makin melemah, namun kenapa nilai ekspor kita masih relatif dan nilai impor kita juga tidak turun,” ujarnya .

Dalam skala nasional, terang Doddi, ekspor dan investasi menjadi satu masalah yang dapat diselesaikan secara parsial. Artinya, kedua masalah itu masih menjadi satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Menurut dia, permasalahan tersebut tidak bisa hanya diselesaikan antarwilayah saja. Pasalnya, masalahnya menyangkut kewenangan antarlembaga.

“Contohnya, perizinan ekspor dan lain sebagainya. Ke depan, saya rasa kita butuh semacam task force atau satgas. Kalau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) punya satgas waspada investasi, kita rasanya butuh task force di bidang impor,” tegas Doddi.

Doddi lantas menjelaskan, sesuai data Enciety Business Consult, prestasi nilai ekspor jauh lebih tinggi dari pada impor terakhir hanya terjadi pada Juni 2017.  Pada Maret 2019, angka ekspor dan impor kita sama, namun secara keseluruhan angkanya jauh lebih tinggi nilai impornya.

“Ya mungkin impor yang terjadi bahan baku, namun hal ini menjadi pekerjaan yang wajib diatasi bersama,” paparnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan menjelaskan, peluang membangun perekonomian sangat terbuka bagi pelaku usaha di Jawa Timur.

Menurut dia, faktor produksi menjadi satu kunci utama untuk membangun usaha di era perang dagang. “Efisiensi biaya produksi jadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Faktor biaya tenaga kerja yang terus meningkat setiap tahunnya menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diatasi pelaku usaha,” ujarnya.

Isdarmawan juga menyebut permasalahan bahan baku impor yang sampai saat ini masih sangat dibutuhkan pelaku usaha juga harus dicari jalan keluarnya.  Penggunaan bahan baku impor ini juga harus dicari alternatif bahan pengganti yang kualitasnya sama.

Isdarmawan menambahkan, bidang logistik yang menjadi sentral. Tingginya biaya logistic sampai hari ini menjadi satu tantangan bagi para pelaku usaha.

“Untuk biaya logistik, sampai saat ini jika dibandingkan dengan Vietnam atau Thailand, angka biaya logistik jauh di atas mereka. Jelas hal ini sangat mempengaruhi pertumbuhan dunia usaha kita,” terangnya. (wh)