Ini Enam Kota Potensial Investasi Properti di Luar Jabodetabek

Ini Enam Kota Potensial Investasi Properti di Luar Jabodetabek

Derap industri properti di Indonesia pada 2014 memang melambat. Ada tiga alasan yang disinyalir menjadi penyebabnya: siklus properti delapan tahunan, ajang pemilihan umum dan pemilihan presiden, serta kebijakan loan to value (LTV).

“Property cycle memang tidak bisa dihindari karena tak ada pasar properti yang selamanya booming. Sementara itu, pemilu yang berjalan baik dan efek LTV hanya sesaat membuat pasar properti membaik di akhir 2014 lalu,” ujar Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy and Services Sinar Mas Land, yang dikutip dari laman www.rumah.com, Rabu (18/2/2015).

Berdasarkan data dana analisa dari berbagai lembaga survei internasional, Ishak yakin, Indonesia masih menjadi prioritas utama investasi di Asia bahkan di dunia.

“Kami secara khusus memonitor sektor perkantoran, kondominium, industrial, ritel dan perumahan di Jakarta yang di tahun ini masih akan terus tumbuh meski ada beberapa sektor yang akan melambat bila dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, sektor perkantoran juga akan melambat,” kata Ishak.

Dia juga menjelaskan, pertumbuhan populasi dari Middle Affluent Consumers (MAC) yang berpusat di Jawa dan Sumatera akan mempengaruhi sektor ekonomi masa depan dan pada akhirnya berpengaruhi pada bisnis properti di Indonesia.

Ishak mengutarakan, kalau DKI Jakarta dan area sekitarnya seperti Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor bukanlah satu-satunya opsi investasi. Bila merujuk pada enam koridor pengembangan ekonomi masih banyak kota-kota lain yang berpotensi sebagai opsi investasi seperti Surabaya, Makassar, Balikpapan, Samarinda, Medan, dan Batam.

Ia menambahkan, peluang investasi masih terbuka lebar pada 2015, mulai dari lebih banyaknya arus investasi yang masuk ke Indonesia karena berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, pengembangan kota sekunder, pembangunan kota satelit baru, pembangunan infrastruktur baru hingga peluang kemitraan lokal dan asing.

“Meski begitu, tantangan tetaplah ada, mulai dari hyper competitive market, tingginya biaya produksi dan operasi, target pajak penghasilan dari pemerintha, hingga kebijakan pemerintah seperti penerapan LTV, dan hunian berimbang,” kata Ishak. (lp6/wh)