Ini Dia Anggota Pejuang Muda yang Karyanya Dibeli Wali Kota Risma

Ini Dia Anggota Pejuang Muda yang Karyanya Dibeli Wali Kota Risma

Teks: Cahya Budi Saptono, anggota Pejuang Muda, yang karyanya dibeli Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Sabtu (10/6/2017). Foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Cahya Budi Saptono pantas tersenyum lega. Pasalnya, setahun ikut pelatihan Pejuang Muda Surabaya, produk baju buatannya sudah laku dijual. Yang menggembirakan lagi, salah satu pembelinya adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Kreasi Cahya berupa baju batik yang dikombinasikan dengan songket dipakai dan dipamerkan Bu Risma kepada awak media, beberapa hari lalu. “Butuh waktu sebulan membuat baju untuk Bu Risma itu,” katanya.

Yang bikin surprise, Cahya hanya menayakan ukuran baju yang biasa dipakai wali kota terbaik dunia kepada stafnya. Dia tak pernah mengukur langsung. “Alhamdulillah, setelah saya kerjalkan ternyata pas dipakai Bu Risma,” tutur pemuda berusia 25 tahun tersebut.

Puas dengan kreasi Cahya, Risma pun memanggil Cahya ke Balai Kota barenag para mentor Pejuang Muda Surabaya. Risma menyatakan senang dengan karya dan desain yang dibuat Cahya.

“Bu  Risma mengaku senang dengan kreasi batik songket yang saya buat kemarin. Saat diminta bertemu beliau di Balai Kota, Bu Risma menyerahkan kembali kain batik untuk dibuatkan baju lagi,” kata Cahya.

Remaja lulusan Magistra Utama D1 jurusan administrasi perkantoran tahun 2011 tersebut mengaku senang dengan kepercayaan yang diberikan wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan itu.

Anak tunggal pasangan Siti Suryanti dan Winaryo tersebut mengaku membutuhkan waktu sebulan membuat baju batik songket yang dipakai Risma. Untuk desainnya, ia menyelesaikan bersama mentor Pejuang Muda Surabaya, Atiek Dasar Sumarhadi.

Cahya lalu menceritakan sebelum membuat baju untuk  Wali Kota Risma. ketika itu ia diberikan kain batik coklat produk Ari Bintarti dari Batik Alsier, salah seoarang pelaku usaha Pahlawan Ekonomi. Bentuknya, batik bulu burung merak yang berukuran 1,15 meter kali 2 meter.

“Saya kebingungan karena motifnya bulu merak, sulit untuk dibuatkan baju. Akhirnya ketemu ide untuk dibuatkan kerah yang tegak untuk mengkamuflase leher agar terlihat lebih jenjang. Juga karena saya lihat Bu Risma biasanya pakai kerudung yang dimasukkan ke baju,” urainya.

Setelah desain jadi, akhirnya baju tersebut dijahit dan ditambah kombinasi dengan kain songket. Cahya sendiri mengaku mau menyerahkan kepada Wali Kota Risma saat acara Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda memperingatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) di Kaza City Mall, pada 31 Mei 2017 lalu.

“Ternyata beliau (Bu Risma) berhalangan hadir. Baju saya Bu Nanik yang akhirnya diserahkan beberapa hari lalu,” tutur pria yang mengaku bercita-cita menjadi fashion design tersebut. (wh)