Ini Curhat Siswa SMA Khadijah soal Bocoran Soal Unas

 

Ini Curhat Siswa SMA Khadijah soal Bocoran Soal Unas

Tanggal 2 Mei yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, menyadarkan kepada masyarakat betapa pentingnya arti sebuah pendidikan yang benar dan jujur.

Pada tahun 2011 lalu, ada Siami, seorang ibu dari Gadel yang memperjuangkan anaknya di Sekolah Dasar (SD), berani mengungkapkan kejujuran pendidikan hingga harus pindah sekolah karena dimusuhi sekolahnya.

Kini, di tahun 2014, ada Nurmillaty Abadiah. Ia seorang siswi kelas III (XII) SMA Siti Khadijah Wonokromo, yang berani menulis surat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh.

Nurmillaty Abadiah menyampaikan uneg-unegnya tersebut dalam acara Perspective Dialugue di Radio Suara Surabaya bersama Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, Jumat (2/5/2015). Hadir pula, Kepala SMA Siti Khadijah M Mas’ud, Direktur Yayasan Siti Khadijah Suwito.

Nurmillaty menceritakan awal dari keputusannya membuat surat terbuka berawal dari kegundahan hatinya. “Pada Rabu pagi usai sholat subuh, saya buat surat seperti curatan hati ke Mendikbud. Saya hanya menggambarkan saja suasana hati,” katanya.

Taty, panggilan karibnya, mengucapkan rasa terima kasihnya pada Mendikbud yang telah membaca tulisan dan meresponsnya. Walaupun respons Mendikbud tidak seperti yang diharapkannya.

“Saya minta Mendikbud minta maaf kepada kami semua (siswa sekolah) bahwa kami dinilai tidak mampu membuat surat seperti itu. Padahal siswa SMA semuanya bisa membuat surat seperti itu,” ucapnya.

Unas itu sebenarnya bagus untuk pemetaan. Tetapi sekarang tidak ada sisi baiknya karena banyak beredar kunci jawaban. Dan kunci jawaban itu sudah bukan rahasia umum.

“Saya tidak beli, tapi setelah Unas saya baru mencocokkan dengan bocoran Unas. Lebih banyak akurat dan itu menunjukkan Unas tahun ini bener-bener bocor,” tutupnya.

Kepala Sekolah Khadijah M Mas’ud mengatakan, surat terbuka untuk Mendikbud yang dikirimkan oleh muridnya membuat pihaknya terkejut. Walaupun ada rasa ketakutan, namun pihaknya mengaku ada rasa apreasiasi terhadap muridnya.

“Ada rasa ketakutan di awal-awal, tapi ada dukungan dari masyarakat yang membuat kami kuat,” katanya.

Diakuinya, ada telepon dari Diknas Surabaya yang menanyakan apa benar surat yang ditujukan ke Mendikbud itu yang menulis murid kami. “Kami jawab iya dan Taty termasuk siswi yang menonjol dalam akademik, terutama pelajaran Matematika,” ucapnya.

Kresnayana Yahya mengatakan yang lebih penting lagi adalah setiap manusia harus menghargai dan menghormati guru dan orang tua. Pendidikan diperlukan seumur hidup.  “Karena merekalah yang memberikan semangat terhadap karya pendidikan mulai awal,” katanya.

Menurut dia, sekarang ini pendidikan terlalu dipolitisir sebagai keberhasilan oleh suatu pihak, yaitu Presiden dan Mendikbud. Padahal kenyataannya, murid atau siswa itulah yang harus didengarkan dan dididik.

“Talenta dan kemampuan mereka yaitu para murid harus diperhatikan. Jangan hanya bilang ini adalah keberhasilan pemerintahan,” ucapnya. (wh)