Ini Alasan ITS Memberikan Risma Gelar Honoris Causa

Ini Alasan ITS Memberikan Risma Gelar Honoris Causa
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat memberi sambutan sebelum dikukuhkan sebagai penerima Honoris Causa kedua dari ITS, Rabu (4/3/2015).

Penghargaan yang diberikan Intitut Teknologi Sepuluh November ITS (ITS) Surabaya kepada Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini sebagai peraih gelar Honoris Causa (Dr Hc) pada Rabu (4/3/2015) bukan tanpa alasan. Ini karena ITS menganggap perempuan yang juga dinobatkan sebagai Wali Kota terbaik ketiga Dunia versi the World Mayor Prize (WMP) 2014 itu berhasil menorehkan inovasi pembangunan Kota atas partisipasi masyarakat Surabaya.

Kepada wartawan, Rektor ITS Surabaya, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono menegaskan bahwa selama ini ITS sangat pelit untuk memberikan gelar penghargaan kepada seseorang. Tercatat, ITS Surabaya baru memberikan dua penghargaan Honoris Causa setelah sebelumnya gelar tersebut juga diberikan kepada Pakar Marketing, Hermawan Kartajaya pada 2010 silam di bidang marketing atau pemasaran.

“Kita baru memberikan (gelar Honoris Causa) ini pada dua orang saja. Kita bisa lihat betapa pelitnya ITS Surabaya untuk memberikan gelar Doktor Kehormatan,” cetusnya saat menggelar konferensi pers di Graha ITS Surabaya sesaat setelah menganugerahkan Honoris Causa kepada Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Pertimbangan Triyogi memberikan Risma penghargaan ini lantaran sepak terjang Risma dalam membangun Kota Surabaya dinilai sebagai terobosan yang luar biasa. Termasuk di antaranya adalah karya-karya Risma dalam mengubah wajah kota Surabaya dengan mengajak partisipasi masyarakat Surabaya.

“Sebenarnya pengajuan gelar ini sudah sejak lama, pada 29 Januari lalu Program Studi (Prodi) Arsitektur mengajukan Risma untuk meraih gelar Honoris Causa. Lalu kita tinjau apakah bu Risma layak melalui rapat Senat,” bebernya.

Sementara itu, ditambahkan olen Ketua Senat ITS Surabaya, Prof. Priyo Suprobo menjelaskan bahwa proses pengusulan Tri Rismaharini sebagai peraih gelar Honoris Causa sejak akhir Januari lalu. “Waktu itu kita rapat tentunya bu Risma diteliti dan diwajibkan membuat desertasi,” tegasnya.

Kemudian setelah semua persyaratan lengkap, desertasi bu Risma diuji oleh tim penguji lalu diserahkan ke Rektor. Hingga pada akhir September 2014 lalu karya Risma tersebut di bawa ke Senat untuk diuji bersama dan disepakati kelayaknnya.

“Di Senat pun itu digodok penuh dengan membuat tim baru pada bulan Oktober senat kemudian memutuskan (Risma) pantas untuk menyandang doktor kehormatan. Ini sebenarnya haknya ITS, tapi harus atas sepengetahuan Kemenristek. Makanya baru akhir Desember 2014 baru turun,” bebernya.

Namun karena padatnya agenda akademisi ITS Surabaya dan kesibukan Risma, hingga baru Maret Risma bisa dikukuhkan sebagai perempuan pertama peraih gelar Honoris Causa dari ITS Surabaya.

“Karena Bu Risma sibuk, dan ITS juga banyak kegiatan sehingga baru terlaksana hari ini. Tidak ada kaitannya dengan pencalonan apa-apa (isu politik Pilwali Surabaya) atau apa-apa, ini intinya kebijakan ITS,” tegasnya kembali. (wh)