AS Ingatkan Ebola Bisa Seperti AIDS

 

AS Ingatkan Ebola Bisa Seperti AIDS

Seorang pejabat tinggi kesehatan AS mendesak tindakan cepat untuk mencegah virus mematikan Ebola menjadi epidemi seperti AIDS. Hal itu disampaikan menyusul perawat Spanyol yang terinfeksi Ebola dan keadaannya serius.

Presiden Regional Madrid Ignacio Gonzalez mengatakan kepada parlemen bahwa Teresa Romero (44 tahun) terancam mati. Dia adalah orang pertama yang diketahui terinfeksi Ebola di luar Afrika.

Sementara itu Sekjen PBB Ban Ki Moon menyerukan dunia internasional untuk meningkatkan respon terhadap penyebaran Ebola hingga 20 kali lipat. Virus ini telah menewaskan hampir 3.900 orang di Afrika Barat sejak awal tahun.

Penyebaran Ebola ke AS dan Eropa telah menimbulkan kekhawatiran wabah yang lebih luas dan membuat AS, Kanada dan Inggris memulai pengawasan ketat terhadap penumpang yang tiba dari Afrika Barat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperkirakan jumlah kasus ini bisa memuncak menjadi 1,4 juta pada Januari kecuali diambil langkah-langkah kuat untuk mencegahnya. Ebola menyebar melalui kontak dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

“Kita harus bekerja mulai sekarang sehingga tidak terjadi AIDS berikutnya. Saya akan mengatakan bahwa dalam 30 tahun saya bekerja di kesehatan masyarakat, satu-satunya hal seperti ini adalah AIDS,” ujar Direktur CDC Tom Frieden kepada kepala PBB, Bank Dunia dan IMF di Washington, Jumat (10/10/2014).

Teresa Romero dinyatakan positif Ebola  setelah merawat dua misionaris tua penderita Ebola. Para pejabat kesehatan mengatakan mereka akan memantau sekitar 50 orang lainnya, sebagian besar staf kesehatan, yang telah melakukan kontak dengan dia selama 21-hari masa inkubasi Ebola.

Menurut perhitungan terakhir rumah sakit tiga belas orang lainnya berada dalam karantina di rumah sakit sebagai tindakan pencegahan, termasuk suami Romero dan beberapa petugas kesehatan,. Di antara mereka yang dikarantina adalah dua penata rambut yang memiliki kontak dengan Romero.

Salah satu korban terbaru Ebola adalah Thomas Eric Duncan, pasien pertama yang dirawat di AS hingga meninggal akibat penyakit tersebut. Duncan adalah orang pertama kali didiagnosis Ebola di AS dan orang pertama yang meninggal di rumah sakit AS.

Hanya beberapa saat setelah kematiannya diumumkan Rabu lalu, para pejabat AS memerintahkan peningkatan pengawasan di lima bandara utama, yakni di Atlanta, Chicago, New Jersey, New York, dan Washington.

Menteri Kesehatan Prancis Marisol Touraine mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pihak berwenang di negara-negara yang sangat terpengaruh Ebola untuk melihat dalam kondisi apa yang dapat memperkuat kontrol keberangkatan.

Inggris mengatakan akan mulai melakukan pengawasan pada orang yang datang dari sebagian wilayah yang dilanda Ebola di Afrika Barat di bandara Heathrow dan Gatwick dan kereta Eurostar dari Belgia dan Perancis.

Komisi Eropa diperkirakan akan bertemu pada 17 Oktober untuk membahas cara baru yang mungkin dilakukan untuk memantau penumpang dari negara-negara yang terkena dampak.

Menteri Kesehatan Kanada Rona Ambrose mengatakan dosis prototipe vaksin Ebola yang dikembangkan negaranya tetap berada disana meskipun sudah ditawarkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hampir dua bulan lalu. “WHO belum memutuskan kapan mendistribusikannya. Kami berharap mereka dapat menggunakannya,” kata Ambrose.

Sebelumnya Ambrose mengatakan vaksin ini belum diuji pada manusia tetapi telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam penelitian terhadap hewan. Ini adalah salah satu dari dua vaksin yang dianggap menjanjikan oleh WHO untuk uji klinis sebelum dikomersialisasi.

Berlanjutnya wabah ini di Afrika Barat memaksa para pejabat di Liberia, negara yang paling parah dilanda wabah Ebola, untuk menunda pemilu nasional. Hampir tiga juta pemilih sedianya akan menuju ke tempat pemungutan suara pada Selasa, namun penyelenggara mengatakan tidak ada cara bagi gerakan massa, penyebaran dan pengumpulan orang bisa dilakukan tanpa membahayakan jiwa.

Kepada PBB, Kepala Bank Dunia dan IMF di Washington serta Presiden Sierra Leone Ernest Bai Koroma menyerang respon global terhadap epidemi tersebut sejauh ini, dengan mengatakan bahwa epidemi itu bergerak lebih lambat dari penyebaran penyakit. “Respon lebih lambat dari virus ini perlu diubah,” katanya.

Ban Ki-moon mengatakan sumber daya untuk mendukung peperangan ini harus ditingkatkan 20 kali lipat dan mendesak negara-negara untuk bertindak tanpa penundaan. “Kasus-kasus Ebola tumbuh secara eksponensial. Jangan menunggu untuk konsultasi. Lakukan tindakan saja,” tegas Ban.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengakui bahwa dunia masih di belakang kurva dalam memerangi Ebola. Sebelas orang di Australia telah dites Ebola dalam beberapa pekan terakhir, namun sejauh ini tidak ada yang telah terdeteksi.  (bst/ram)