Inflasi, Anggaran Liponsos Keputih Surabaya Naik jadi Rp 14 M

Inflasi, Anggaran Liponsos Keputih Surabaya Naik jadi Rp 14 M

Penampungan Liponsos Keputih Tegal yang penuh sesak, Rabu (26/10/2016). foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Penuh sesaknya Liponsos yang berada di jalan Keputih Tegal Surabaya dengan menampung 1549 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) membuat anggaran untuk membina mereka juga ikut naik mencapai Rp 14 miliar per tahun.

Kepala Dinas Sosial kota Surabaya Supomo membenarkan jika anggaran yang diterimanya mencapai Rp 14 miliar pertahun. “Anggaran Rp 14 miliar itu dengan hitungan kami untuk memberi makan dan mengobati 1.500 penderita PMKS yang ditampung di Liponsos keputih,” kata Supomo, Rabu (26/10/2016).

Menurutnya, kenaikan anggaran tersebut wajar dikarenakan inflasi yang terjadi di semua daerah di Indonesia dan juga terus bertambahnya jumlah PMKS yang ditampung di Liponsos Keputih.

Ia menceritakan, sebelum PMKS ditampung di tempatnya, bagi yang tertangkap oleh petugas, pihaknya terlebih dahulu memasukkan mereka ke ruang isolasi. Disana, mereka dipisahkan dengan penghuni lainnya untuk mengetahui apakah yang tertangkap tersebut benar-benar mengalami gangguan jiwa atau lainnya.

“Di ruang isolasi ini, mereka yang terjaring diberikan obat penenang dulu dan dibawa ke Rumah Sakit jiwa Menur untuk diperiksa kondisinya. Bila memang benar mereka sakit dan tidak ada keluarga yang mengambilnya, baru kami tampung dengan dimasukkan ke barak yang telah disediakan. Bila ternyata sudah baikan, kami hubungi keluarganya untuk diserahkan atau dipulangkan,” ujarnya.

Kepala UPTD Liponsos Keputih, Erni Lutfia mengatakan pihaknya mengeluarkan uang setiap bulannya mencapai Rp 800 juta lebih untuk memberi makan 3 kali bagi semua penghuninya.

“Rp 800 juta lebih itu untuk makan dan lauk serta minum. Namun itu belum untuk beli beras karena ditenderkan lagi,” terang Erni Lutfia.

Dengan daya tampung seribu dan kini diisi dengan 1549 penderita PMKS, Erni membenarkan bila kapasitasnya sudah overload. Para PMKS ini sendiri ditempatkan di 5 barak yang telah disediakan dengan ada beberapa petugas pendamping.

“Tugas pendamping itu, yang tahu masing-masing apakah sudah sembuh. Dan mereka juga bertugas setiap harinya memantau kegiatan mulai nyuci barak, dan mandikan masing-masing penderita serta membuat makan,” terusnya.

Bila ada PMKS yang sakit, Erni mengatakan bila pihaknya terlebih dahulu mengobati sendiri dengan upaya pemberian kesehatan. Bila tidak bisa tertangani baru dibawa ke puskesmas dan jika dinyatakan gawat maka akan dirujuk ke RS dr Suwandi atau Rumah Sakit Jiwa Menur.

“Untuk pengobatan rutin, kami memberangkatkan 10 PMKS ke RSJ Menur untuk dilihat perkembangannya. Dalam seminggu ada 2 kali diperiksakan disana, jadi ada 20 PMKS yang setiap minggunya di bawa ke Menur,” ujarnya.

Pemeriksaan ini diutamakan bagi yang baru masuk. Mereka bisa menjadi prioritas pulang bila bisa sebut nama dan alamat serta keluarga di rumahnya menyetujui untuk dipulangkan.

“Namun kebanyakan keluarga yang dihubungi mengaku tidak lagi mau menampung mereka. Ini kan kasihan,” katanya. (wh)