Industri Sepatu Jatim Tumbuh 41,4 Persen

 

Industri Sepatu Jatim Tumbuh 41,4 Persen

Industri sepatu di Jawa Timur tumbuh 41,4 persen. Kenaikan ini cukup menggembirakan. Pasalnya, pada awal tahun ini terbebani kenaikan upah minimum kabupaten/kota yang rata-rata naik hingga 25 persen.

Sekretaris Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur Ali Mas’ud menguraikan kenaikan upah yang signifikan awal tahun disiasati dengan mengalihkan lokasi produksi.“Bukan pabriknya dipindah, tapi mungkin pabrik utama hanya barang inti, sedangkan perakitan dan finisihing di pabrik di ring 3 yang lebih murah,” jelasnya.

Dia menggambarkan pabrik perakitan sepatu kini berada di Madiun, Ngawi dan Lamongan. Sedangkan pabrik bahan baku masih tetap berada di lokasi lama seperti Sidoarjo.

Siasat tersebut terbukti membuat industri sepatu masih bisa tumbuh. Semester I/2014 ekspor sepatu dari Jawa Timur USD 55,81 juta (sekitar Rp653,6 miliar) atau naik 41,4 persen dibanding periode sama sebelumnya USD 39,46 juta (sekitar Rp461,5 miliar).

Sedangkan ekspor alas kaki lainnya semester I/2014 USD 113 juta (sekitar Rp1,3 triliun) naik 20,98 persen dibanding periode sama sebelumnya USD 93,4 juta (sekitar Rp1 triliun).

Ali menilai kinerja semester I/2014 menunjukkan  daya saing industri Jawa Timur masih cukup bagus di tengah kenaikan biaya buruh maupun listrik. Keunggulan pekerja yang telaten sehingga produknya baik bisa jadi keunggulan Jatim. “Hanya saja untuk tahun depan ini yang perlu diwaspadai. Kalau produk alas kaki bebas keluar masuk Asean, apakah daya dukung tersebut masih bisa bertahan,” jelasnya.

Menurutnya keunggulan industri alas kaki saat ini bisa saja dipertahankan bahkan bila perlu ditingkatkan. Salah satu caranya dengan menyediakan program berkelanjutan memperkuat industri alas kaki, teknisnya bisa dengan membuat pasokan bahan baku terjamin. “Indonesia dikenal sebagai penghasil kulit kelas wahid di dunia. Kalau ini dikelola dengan baik maka bisa meningkatkan daya saing,” paparnya.

Pemerintah daerah, kata dia, bisa saja membuat kawasan percontohan peternakan terpadu yang kulitnya masuk kualitas industri sepatu. Pola integrasi semacam itu bisa menjawab kebutuhan pasokan bahan baku kulit sekaligus menjamin ketersediaan daging. (bns/ram)