Industri Otomotif Cermati Kenaikan Tarif Listrik

Industri Otomotif Cermati Kenaikan Tarif Listrik

 

Kalangan agen tunggal pemegang merek (ATPM), baik sepeda motor dan mobil, sedang menyiapkan strategi baru menyusul rencana Pemerintah menaikan tarif listrik golongan industri skala besar pada 1 Mei 2014.

Industri otomotif masuk dalam golongan industri skala besar merupakan salah satu industri yang paling terdampak karena dari keseluruhan produksinya menggunakan listrik sebagai sumber utama.

Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, Sigit Kumala, menjelaskan, hingga saat ini, AISI belum membahas khusus terkait rencana Pemerintah menaikan tarif listrik. “Kami belum berkumpul membahas soal ini , tetapi hal ini sangat penting dan segera disikapi,” ujarnya.

Dia menuturkan, selama ini, selain menggunakan listrik dengan bahan bakar diesel, pabrikan sepeda motor juga menggunakan sumber listrik lainnya dengan bahan bakar batu bara. Namun, sambungnya, jika Pemerintah memang akan tetap menaikan tarif listrik bagi industri skala besar seperti otomotif, maka pihaknya akan menyiapkan strategi baru.

Sigit menerangkan, jika tarif listrik dipastikan naik maka imbas terbesar berpengaruh pada penaikan harga produk otomotif. Jika hal ini terjadi, lanjutnya, pasar akan sedikit tergerus karena kemampuan konsumen dalam hal pembelian kendaraan bermotor akan sedikit melemah, menyusul masing-masing ATPM menaikan harga jual mobil.

Di sisi lain, kenaikan tarif listrik juga tidak hanya membebankan konsumen tetapi juga pada supplier masing-masing pabrikan dalam hal ini yang membantu distribusi kendaraan.

Untuk itu, Sigit berharap, ATPM akan membahas hal ini sehingga ada strategi yang baik dan tidak membebankan konsumen yang ingin membeli kendaraan bermotor karena harganya melambung.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D. Sugiarto menuturkan, hingga saat ini Gaikindo belum bisa memastikan karena hingga hari ini aturan tersebut belum dikeluarkan.

“Jadi belum bisa dipastikan karena perlu mengetahui berapa kisaran kenaikannya, sehingga kesimpulan terkait dampak atas penaikan itu bisa dikalkulasi,” ujarnya.

Tarif listrik, sambungnya, merupakan salah satu dari klausul yang sangat mempengaruhi harga produk mobil, selain kurs mata uang, pengupahan, dan harga jual baja.

Dengan dasar itu, Jongkie berharap, Pemerintah juga harus memperhatikan beban yang nanti ditanggung oleh pelaku industri dan konsumen yang bakalan merasakan akibat dari rencana kenaikan tarif listrik untuk industri berskala besar termasuk otomotif. (bns/bh)