Industri Kreatif di Level Internasional

Kresnayana Yahya - ENCIETY NEWS

Oleh KRESNAYANA YAHYA

Apakah ada bisnis yang origination-nya tidak jelas? Mungkin kebanyakan orang akan menjawab, “Tidak ada!” Cukup logis bila mayoritas menjawab seperti itu. Berbagai teori bisnis pun mewajibkan pelaku usaha mendefinisikan fokus bisnisnya pertama kali. Mau buka kafe, usaha percetakan, ekspor ternak kambing ke Malaysia, buka agensi perjalanan wisata, dan sebagainya. Itu semua merupakan wujud bisnis yang origination-nya jelas.

Namun, belakangan dikenal bidang usaha yang basisnya bisa dibilang tak berwujud. Namanya bisnis kreatif, creative industry. Para pelakunya bukan pengusaha mainstream. Mereka biasa disebut “seniman yang berbisnis”.

Mengapa layak disebut seniman? Hemat saya, seniman adalah kalangan yang punya expertise dalam menangkap, mendefinisikan, dan mengolah barang abstrak. Barang yang origination-nya tidak jelas menjadi sebuah barang berwujud. Membuat apa yang tidak lazim, tapi punya integritas untuk dijadikan kekuatan.

Di negara kita, sektor ekonomi kreatif telah mendapatkan tempat tersendiri. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengayominya. Berbagai produk seni dibuat. Indonesia sudah menjadi pakar dalam hal ini. Dunia pun telah mengakuinya. Sebut saja produk batik. Teman saya dari Jerman pernah terkagum-kagum saat mengetahui ada ribuan desain batik di Indonesia.

Di Jatim saja, lebih dari 800 varian motif batik. Hampir di setiap provinsi penjuru negeri ini memiliki motif batik. Ada batik Solo, Jogja, Pekalongan, Madura, dan masih banyak lagi. Jadi, bisa dibayangkan berapa kekayaan aset desain grafis kuno ini di Indonesia.

Warisan batik merupakan cerminan terpeliharanya potensi industri kreatif Indonesia. Dengan keyakinan tinggi, Indonesia dipastikan mampu berkompetisi di dunia industri kreatif. Prospek ini didukung struktur demografi yang 70% dipenuhi kalangan usia muda.

Fakta terkini, pasar dari salah satu sektor industri kreatif, advertising pada tahun 2012, meningkat 20% dari periode sebelumnya. Angkanya mencapai angka Rp 87 trilliun.

Produksi iklan-iklan di televisi dan media cetak butuh banyak sentuhan desain. Paling banter tiga minggu tayang, iklan sudah dianggap basi. Sektor bisnis ini merupakan peluang bagi desainer grafis, penulis, film maker, dan siapa pun yang bersedia memberikan jasa penguatan citra (brand) kliennya.

Masih banyak celah yang bisa dioptimalkan pemain bisnis kreatif. Tidak ada batasan dalam konteks kreativitas. Kata kunci dari kreativitas adalah inovasi. Invesment butuh sesuatu yang unik.

Dulu, produktif dikonotasikan mesin, tapi sekarang ide. Idenya terbeli dengan konsumen. Knowledge kita gunakan sebagai kekuatan. Entah itu adalah jasa pembuatan logo perusahaan, jasa pembuatan iklan di media cetak maupun elektronik, atau jasa penulisan artikel maupun portfolio perusahaan. Bisa jadi sektor industri ini merupakan salah satu yang paling luas ruang karyanya dibandingkan sektor lain dalam keluarga industri kreatif.

Tren ke depan hingga tahun 2030, inovasi berbasis alam dan inovasi yang terlahir karena keprihatinan sangat dibutuhkan. Karena pertambahan manusia sangat tidak diimbangi kehadiran kesempatan pengadaan pangan. Jadi, tantangan terberat manusia adalah berkaitan dengan persoalan ini. Dalam konteks inilah yang disebut green innovation.(*)

*Chairperson Enciety Bussines Consult dan dosen Statistik ITS Surabaya