Industri Film Indonesia Lesu, Bisnis Bioskop Justru Bergairah

Industri Film Indonesia Lesu, Bisnis Bioskop Justru Bergairah

Pengamat perfilman Armand Budiarto hadir di acara Kupas Bisnis di Spazio Surabaya, Rabu (28/1/2015) malam. avit hidayat/enciety.co

Perkembangan teknologi informasi berdampak positif pada perkembangan dunia perfilman Indonesia. Meski demikian, hal itu ternyata tidak membuat industri perfilman nasional bergairah. Justru sebaliknya, perkembangan teknologi membuat bisnis bioskop menggeliat di masa kini.

Dibeberkan Brand Ambassador YouTube Indonesia Dennis Adhiswara bahwa saat ini memang teknologi perfilman sangat terjangkau dan mudah didapatkan untuk berkarya membuat sebuah film. Persoalannya, justru kemudahan ini kata Dennis tidak berdampak pada bergairahnya industri perfilman di tanah air.

“Tapi masalahnya itu kalau filmnya sudah jadi, lari ke mana nantinya film ini? Padahal di Indonesia penonton potensialnya itu sebesar 40 juta jiwa. Tapi kenapa sampai sekarang film terlaris di Indonesia, Laskar Pelangi hanya memiliki penonton 4 juta jiwa saja?” bebernya kepada peserta Kupas Bisnis di Spazio Surabaya, Rabu (28/1/2015) malam.

Menurut pria yang juga menggeluti film pendek dalam Layaria ini, masalah lesunya industri perfilman di Tanah Air ini sangat parah. Bahkan diakuinya, saat ini film di Indonesia sedang mengalami krisis.

“Selama ini kita itu baru memiliki 900 layar bioskop dari sekitar 200 bioskop di seluruh Indonesia. Padahal pasar potensial kita mencapai 40 juta jiwa,” tegasnya.

Jumlah bioskop ini masih jauh dari kebutuhan pasar saat ini. Ini yang kemudian mendasari Dennis bahwa bisnis bioskop pada tahun depan akan menjadi pasar potensial. Namun sayangnya, hal ini tidak bisa mengangkat kualitas film Indonesia lantaran persoalan biaya pembuatan film yang tidak murah.

“Coba bayangkan, kalau kita sudah mengeluarkan Rp 50 ribu untuk sebuah tiket bioskop, apa kita akan memilih nonton film Indonesia yang isinya cuma nangis-nangis dan pocong lucu? Saya yakin penonton akan memilih nonton film Hollywood yang terjamin kualitasnya,” jelasnya.

Ini yang membuat banyak film di Indonesia tidak bertahan lama di bioskop. Bahkan, aku Dennis, sebuah film Tanah Air tidak sedikit yang hanya bertahan hanya tiga hari di bioskop nasional. “Harusnya kita menyediakan sebanyak-banyaknya bioskop dengan segmentasi yang variatif seperti yang terjadi di India. Mulai dari tiket Rp 5 ribu sampao Rp 60 ada,” tambahnya.

Seperti yang dilakukan India, mulai dari kalangan kelas bawah sampai kelas atas bisa menikmati menonton bioskop. Dari segmentasi ini kata Dennis, bioskop bisa meraup untung dari segala sektor. Artinya hal ini bisa diterapkan di Indonesia dengan menggalakkan sebanyak-banyaknya bioskop yang ekonomi.

“Di India itu bahkan ada bioskop di rumah, ada juga bioskop yang menyediakan menu makanan prasmanan. Itu yang paling murah dan paling mahal,” tambahnya.

Sementara itu, pengamat perfilman Armand Budiarto menilai, persaingan bisnis industri film saat ini makin ketat. Terlebih dalam dunia bisnis serta perkembangan teknologinya. karena itu menurutnya diperlukan berbagai sarana penunjang komunikasi untuk memperbaiki kualitas film.

“Salah satunya itu adalah desain dan visual film yang bagus akan menarik perhatian masyarakat,” ujarnya. (wh)