Industri Bisnis Halal Sumbang 10 persen GDP Indonesia

Industri Bisnis Halal Sumbang 10 persen GDP Indonesia
Foto : Sandiaga Uno.

Indonesia adalah rumah bagi mayoritas warga muslim dunia. Sekitar 207 juta penduduk Muslim bisa menjadi pasar potensial produk kreatif, makanan halal, bisnis syariah, dan perbankan syariah.

CEO PT Saratoga Investama Sedaya, Sandiaga Uno menilai, potensi bisnis halal ini sangat besar. “Potensinya besar sekali. Nilainya bisa antara 10-15 persen dari GDP (Produk Domestik Bruto) Indonesia,” ujarnya kepada enciety.co di tengah pameran Indonesian Business Halal and Food (IHBF) Expo, Jakarta, Jumat (20/12/2013). Besarnya potensi ini, lanjutnya, bisa jadi modal agar industri bisnis halal semakin berkembang.

Pengusaha muda kelahiran Pekanbaru itu memberi contoh bisnis fashion. Fashion yang bernafaskan Islam karya desainer Indonesia bisa merambah sampai ke Eropa. Hal itu membuktikan, bahwa bisnis fashion Islami sangat menjanjikan. “Belum lagi  dari sektor food dan film yang terkait Islamic belief dan culture,” ujarnya.

Potensi industri bisnis berbasis kehalalan tersebut secara tak langsung membuat ekonomi syariah dilirik. Bahkan di Inggris, menurut Sandi, peminat perbankan syariah justru non muslim. Hal itu disebabkan produknya bagus dan bersaing. Perbankan syariah juga dinilai stabil, dibandingkan dengan produk perbankan non syariah.

Sayangnya di Indonesia, ekonomi syariah menjelma menjadi produk yang terlalu niche. “Cara berpikirnya hanya untuk pemain dan penggiat sektor riil. Padahal seharusnya bisa lebih luas lagi, yakni kepada masyarakat luas,” tandasnya. Maka dari itu, kesadaran terhadap ekonomi syariah harus diangkat. Karena pada dasarnya, imbuh Sandi, pasar menginginkan produk yang berkualitas, berdaya saing, dan murah.

“Jadi walaupun terdapat  label Gerakan Ekonomi Baru tetapi kualitasnya jelek dan harganya mahal, ya pasar nggak akan mau,” cetusnya. Sandi menjelaskan, Gerakan Ekonomi Baru akan tercipta apabila akses terhadap peluang usaha bagi entrepreneur muda terbuka lebar.

Selain itu adalah regulasi yang lebih berpihak kepada pengusaha muda. Kalau ditelaah lebih lanjut, mindset masyarakat cenderung menganggap bahwa semua yang mereka konsumsi telah terjamin kehalalannya. “Padahal belum tentu. Sehingga banyak kaidah-kadiah halal yang harus perusahaan penuhi. Ini adalah peluang bisnis,” tukasnya.

Setidaknya, terdapat 80 persen populasi muslim di Indonesia. Jika pendapatan perkapita negara US$ 1 triliun per tahun, Sandi menaksir 50 persen warga Muslim saja bisa merebut sekitar Rp 5000 triliun.

“Intinya ini soal mindset. Pengusaha muda harus punya mindset tidak lagi menjadi tamu, tapi menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.(wh)