Indonesia Tiga Besar Penghasil Sampah Plastik di Dunia

Kresnayana Yahya dan Tim Adupi dalam acara perspective dialogue. Foto: arya/enciety

Indonesia masuk dalam tiga besar penghasil sampah plastik di dunia.  Fakta ini diungkapkan   Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, Jum’at (7/4).  “Secara tidak sadar, jika bercermin dari data tersebut, perairan negara kita saat ini telah cemar oleh limbah plastik. Tentu saja hal itu sangat berdampak buruk bagi kesehatan warna negara kita. Terlebih, negara kita yang terdiri dari 17 ribu gugusan pulau ini pasti memiliki hasil laut yang besar,” ulas dia ketika memandu acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya.

Tingginya sampah plastik ini  seiring dengan berkembangnya ekonomi.  Kemasan produk yang saban hari dikonsumsi oleh masyarakat sangat identik dengan kemasan plastik. Hal tersebut juga tidak luput dari harga produksi kemasan berbahan dasar plastik yang jauh lebih ekonomis dibanding dengan kemasan-kemasan lainnya.

Tentu saja hal tersebut merupakan salah satu kerugian yang sangat besar bagi Negara maritim seperti Indonesia. Dikarenakan kesadaran masyarakat yang belum terlalu tinggi untuk memilah sampah plastik, sambung Kresnayana, sampah-sampah tersebut sering terbawa hingga ke laut. Akibatnya, perairan kita saat ini secara tidak disadari dapat tercemar. “Jika perairan kita telah tercemar oleh sampah plastik yang sangat sulit untuk diurai secara alami, maka hasil kekayaan alam laut seperti hasil ikan dan lain sebagainya tersebut bakal ikut tercemar oleh sampah plastik tersebut,” kupas dia.

Lebih lanjut, Kresnayan menjelaskan, jika ikan yang ada di laut itu kebanyakan adalah pemakan segala jenis macam makanan. Lantas, jika sampah plastik yang masih belum terurai sempurna tersebut sampai dikonsumsi ikan, lalu ikan tersebut nantinya bakal dikonsumsi oleh masyarakat, maka efeknya sangat buruk bagi kesehatan. “Perlu kita tahu, jika industri perikanan kita saat ini merupakan salah satu yang terbesar. Selain itu, konsumsi makanan masyarakat Indonesia sampai saat ini masih didominasi oleh hasil kekayaan laut. Kedepan, jika kita tidak mau menjaga lingkungan, maka efeknya bakal kembali kepada kesehatan kita kedepan,”  tandas Kresnayana. (ram)