Indonesia Terancam Kekurangan Pasokan Baja

baja
Indonesia terancam kekurangan pasokan baja hingga lima tahun ke depan seiring meningkatnya konsumsi produk tersebut yang tidak didukung produksi yang memadai. Kebutuhan konsumsi bahan ini akan mencapai 27 juta ton pada 2020, tapi produksi di dalam negeri kemungkinan hanya sebesar 14,84 juta ton. “Tingginya peningkatan kebutuhan dalam negeri yang tidak diimbangi penambahan kapasitas produksi akan membuat ketergantungan terhadap produk baja impor semakin besar. Tercatat, dari total konsumsi baja yang sebesar 12,7 juta ton pada 2013, sebanyak 8,4 juta ton atau 66 persen dipenuhi dari impor,” kata Anggota Komisi Standard dan Sertifikasi Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Bimakarsa Wijaya di Jakarta.
Menurut Bimakarsa, peningkatan konsumsi baja di Indonesia akan terjadi seiring bertambahnya GDP. IISIA mencatat, konsumsi per kapita Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan negara asia lainnya. Pada 2013, konsumsi baja per kapita di Indonesia hanya 52 kilogram (kg), jauh di bawah Singapura yang sebanyak 879 kg per kapita, Malaysia 330 kg per kapita, dan Thailand 253 kg per kapita. “Saat ini Indonesia memasuki tahapan pertumbuhan baja secara intensif, dan konsumsi baja akan terus naik dalam 5 tahun ke depan, hingga mencapai 100 kg per kapita,” ungkap dia.
Bimakarsa menambahkan, permintaan terbesar akan berupa produk baja utama seperti HRC dan tulangan beton. Permintaan utama pada 2020 diprediksi mencapai 17,46 juta ton, dan sisanya 5,56 juta ton dalam bentuk turunan.
Bimakarsa merinci, kebutuhan HRC dalam lima tahun ke depan mencapai 6,20 juta ton, disusul baja tulangan beton 3,36 juta ton, CRC 2,67 juta ton, wire rod 2,25 juta ton, baja plate 2,18 juta ton, dan baja profil 779 ribu ton. Sementara kebutuhan produk baja turunan seperti pipa baja mencapai 3,57 juta ton, coated sheet 1,09 juta ton, kawat 438.000 ton, tinplate 248.000 ton, paku 221.000 ton, dan mur baut 56.000 ton.
Bimakarsa menegaskan, tingginya kebutuhan baja dalam negeri harus disertai penambahan kapasitas produksi pabrik baja nasional. Pasalnya, industri baja merupakan industri strategis dan termasuk dalam industri ketahanan nasional, mengingat fungsinya dalam mendukung industri konstruksi-infrastruktur, manufaktur, dan pertahanan. “National interest terhadap industri baja nasional perlu mendapatkan perhatian lebih. Roadmap pertumbuhan industri baja nasional harus memperhatikan struktur fundamental, proyeksi suplai demand, kapasitas, dan teknologi,” kata dia. (bst)