Indonesia Perlu Siapkan Pembangunan Pabrik Otomotif

Indonesia Perlu Siapkan Pembangunan Pabrik Otomotif
Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya saat mengisi Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/3/2015).

Sebagai salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial, termasuk bagi dunia otomotif.

Diungkapkan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, di Indonesia akan terjadi ledakan permintaan mobil pada beberapa tahun ke depan.

Menurut Kresnayana, pada lima tahun ke depan, perkiraan industri otomotif Tanah Air akan menjadi pasar andalan di tingkat Asia. Ini yang membuat sejumlah produsen otomotif Asia mulai membangun pabrik di Indonesia meski hanya sekadar perakitan.

“Pasar terbesar otomotif se-Asia itu Indonesia. Karena itu Indonesia perlu menyiapkan pembangunan pabrik-pabrik otomotif. Apalagi saat ini kelas menengah di Indonesia sedang meningkat tajam,” katanya saat mengisi Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/3/2015).

Jika pabrikan otomotif Asia membangun industrinya di tanah air, bukan tidak mungkin ini akan berdampak pada meningkatnya kesehjateraan dengan dibukanya lapangan kerja. Pola selanjutnya yang diperlukan adalah dengan mengintegrasikan transportasi massal antar kota.

“Di daerah sedang terjadi ledakan permintaan mobil, terutama untuk angkutan barang pedesaan dipastikan akan meledak. Ini sebagai imbas dari adanya program kemandirian desa dengan suntikan dana desa,” jelasnya.

Hal ini juga nantinya akan berdampak pada menurunnya disparitas harga kebutuhan hidup dari desa dengan kota. Meski demikian, Kresnayana menganggap integrasi membutuhkan biaya yang mahal.

Diperlukan konversi energi yang nantinya akan memacu industri otomotif agar semakin menggeliat di Indonesia. “Kalau diproyeksikan 20 tahun lagi bahan bakar minyak akan habis. kalau tidak habis ya makin mahal,” urainya.

Untuk itu pemerintah Indonesia ke depan akan mengganti 25 persen kebutuhan energi minyak menjadi bahan bakar gas. Ini katanya akanv membuka kesempatan kerja, usaha, dan pengembangan yang memberi proyeksi dan memberi pengetahuan masyarakat di dunia otomotif.

“Nanti kita tidak hanya mengandalkan bahan bakar minyak saja, tapi harus mulai pindah ke bahan bakar gas. Itu satu tahap lebih maju. Kemudian nanti bisa pindah ke bahan bakar nabati. Atau suatu saat nanti bisa dikonversikan dengan energi hibrida,” papar dia. (wh)