Indonesia Minim Produk Pertanian Bersertifikasi

 

Indonesia Minim Produk Pertanian Bersertifikasi

Kendati produk olahan pangan hasil pertanian cukup berlimpah, namun yang tersertifikasi masih sangat minim. Dari data Kementerian Pertanian (Kementan) sejak tahun 2007 hingga April 2014, baru 17 produk olahan yang memiliki sertifikat IG (indikasi geografis).

“Sertifikasi ini perlu dilakukan demi melindungi kekayaan produk daerah. Kami mendorong petani dan pelaku usaha pangan olahan agar segera memiliki sertifikat IG agar menambah daya saing produk pangan Indonesia di pasar internasional,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementan Yusni Emilia Harahap, Jumat (2/5/2014).

Menurut dia, sertifikasi IG produk pangan ini sifatnya wajib. Hal ini berkaitan dengan status Indonesia yang telah menjadi anggota Trade Related of Intellectual Property Right’s Agreement (TRIP’s) yang mewajibkan produk pangan dari anggotanya harus bersertifikat.

“Sertifikat IG ini untuk memberikan perlindungan hukum terhadap praktek atau tindakan persaingan yang tidak sehat,” ujar Emilia.

Dari aturan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 15/2001 tentang Merk dan PP Nomor 51/2007 tentang Indikasi Geografis, menyebutkan ketentuan memberikan perlindungan hukum terhadap praktek atau tindakan persaingan yang tidak sehat.

Kasubdit Promosi Dalam Negeri Pengembangan Usaha dan Investasi Dirjen PPHP Kementan mengatakan, selama ini petani dan pelaku usaha masih kesulitan untuk membentuk pemetaan lokasi. Hal ini, lanjut dia, membuat petani sulit untuk mengklaim produknya merupakan hasil dari satu wilayah.

Selain itu, kata dia, sengketa dan konflik juga kerap terjadi sehingga petani pun tak sampai berpikir pada proses sertifikasi. “Padahal kekhasan produk menambah nilai daya saing di pasar lokal dan internasional,” ujarnya.

Saat ini, produk dengan sertifikat IG masih didominasi dari jenis kopi, rempah, buah tropis termasuk produk organik. Adapun 17 produk yang telah tersertifikasi antara lain: Tembakau Hitam Sumedang, Purwoceng Dieng, Beras Adan Krayan, Madu Hutan Sumbawa, Lada Putih Muntok, Susu Kuda Sumbawa, Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Flores Bajawa, Kangkung Lombok, Minyak Nilam Aceh, Vanili Kepulauan Kelor, Ubi Cilembu, Salak Pondoh, Carica Dieng, Kopi Arabika Java Preanger dan Kopi Arabika Ijeng Rawung. (ram)