Indonesia Jujugan Dunia Mengembangkan Startup

Indonesia Jujugan Dunia Mengembangkan Startup

Fachrul Rijal Ardi, Syamsul Qomar, dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Hingga 19 Januari 2020, Indonesia merupakan lima negara penghasil startup terbesar di dunia. Urutan pertama USA dengan pertumbuhan 47,9 ribu startup. Kedua, India dengan pertumbuhan 7,3 ribu startup. Ketiga, Inggris dengan pertumbuhan 5,1 ribu. Keempat, Kanada dengan pertumbuhan 2,6 ribu. kelima, Indonesia dengan pertumbuhan 2,2 ribu.

“Artinya, dunia digital ini masih merupakan tempat yang paling pas untuk melakukan bisnis. Sedangkan untuk Indonesia, hari ini kita menjadi negara jujugan bagi dunia yang ingin mengembangkan startup,” ulas Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya,  dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (24/1/2020).

Lebih lanjut, kata Kresnayana pelaku usaha digital yang bergerak dalam bidang e-commerce ada sekitar 35 persen. Lalu, 55 persen di antaranya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan game. Sedangkan 5,34 persen merupakan perusahaan fintech (financial technology). Sedangkan 53 persen belum memutuskan fokus bidang usahanya.

Di Indonesia, sambung ia, segala hal yang dilakukan dapat diubah menjadi sebuah bisnis. Contohnya, tukang jasa cuci sepatu. Lalu ada penyedia jasa menata dan mendesain interior rumah.

“Nah ternayata yang jual oleh pelaku usaha itu adalah ide kreatifnya dan bukan hanya sekedar berjualan interor rumah. Nah, artinya di Indonesia ini banyak perusahaan yang dibangun dengan ide kreatif,” ulas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika itu.

Fachrul Rijal Ardi, owner B-Links, mengatakan merintis startup sejak 2008. Produk yang disediakan adalah konten link media, agensi iklan, dan mereview produk-produk pelaku usaha dan bisnis. ” Market kami Jawa Timur, tepatnya area sekitar Surabaya, “ terangnya.

Kata Ardi, saat ini pengguna internet di Indonesia tumbuh sekitar 13-14 persen per tahun. Dari angka tersebut, jumlah pemain atau jumlah pertumbuhan orang yang bekerja di dunia digital sekitar 3 persen.

“Ini kesempatan kita untuk masuk dalam bisnis ini. Karena pasarnya yang besar, tapi yang dapat memanfaatkan tidak banyak. Jelas ini hal yang gurih,” ujar Ardi, lantas tersenyum.

Jal senada disampaikan Syamsul Qomar, Chief Executive Officer (CEO) Agenda Kota. Menurut dia, dunia digital merupakan tempat yang pas untuk melakukan usaha.

Dia menjelaskan, Agenda Kota  berdiri sejak 2016. Agenda Kota merupakan perusahaan startup asli Surabaya. Layanan yang disediakan berupa agensi untuk tempat dan penyelenggaraan acara bagi masyarakat Kota Surabaya.

“Butuh waktu untuk merintis usaha. Kami bersama dengan teman-teman bisa sustainable butuh waktu sekitar dua tahun. Nah, kalau dibilang bakar-bakar uang, itu sih memang ada. Namun, hal itu tidak terbuang percuma, kok. Kita mau melakoni dengan tulus dan terus berusaha,” tutur dia. (wh)