Indonesia Harus Keluar dari Middle Income Trap

Indonesia Harus Keluar dari Middle Income Trap
Direktur Utama Pelindo III Sujarwo, Pakar Ekonomi UI Faisal Basri, Kahfi Kurnia, dan Chaiperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya menjadi pembicara acara Economy Outlook 2015 di Radio Suara Surabaya, Rabu (11/11/2015) malam. foto: arya wiraraja/enciety.co

Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh Pemerintah dan para pelaku ekonomi, yakni harus keluar Middle Income Trap atau jebakan pendapatan menengah adalah situasi di mana suatu negara yang telah mencapai penghasilan pada level tertentu akan terjebak pada tingkat pembangunan ekonomi yang sama terus menerus atau pendapatan perekonomian yang berjalan di tempat.

Hal ini disampaikan oleh Kresnayana Yahya, pakar statistika ITS Surabaya pada acara Economy Outlook 2016, di Radio Suara Surabaya, Rabu (11/11/2015) malam.

“Hampir 15 tahun perekonomian di Indonesia mengalami stagnan atau jalan di tempat. Inilah yang harus dibenahi oleh kita untuk menghadapi kompetisi ekonomi pada tahun 2016,” jelas dia.

Kresnayana  lalu menjelaskan, pada triwulan ketiga tahun ini, nilai ivestasi yang ada di Indonesia tercatat mencapai angka Rp 300 triliun.  Bagi wilayah Jawa Timur, ke depan, investasi yang cocok dilakukan adalah dibidang pengolahan dan produksi.

“Bagi Jatim nilai ekonomi di bidang produksi dan pengolahan relatif bagus dan stabil. Hal ini dikarenakan Jawa Timur menyuplai kebutuhan bahan pokok produksi ekonomi di daerah Indonesia Timur. 40 persen produsen di wilayah Jawa Timur tidak dikonsumsi sendiri, namun dikonsumsi di Sulawesi dan Papua,” urai dia.

Kresnayana juga menyinggung jika saat ini di Jatim terjadi kesenjangan akan pendidikan dengan lapangan kerja yang tersedia. Contohnya, di daerah-daerah seperti Nganjuk, Ponorogo, dan Pacitan. Di daerah tersebut banyak SMK-SMK yang menghasilkan lulusan terbaik di bidang teknik.

“Hanya saja di daerah tersebut jarang tersedia usaha yang dapat menampung lulusan SMK. Karena, kebanyakan daerah industri berada di daerah Surabaya, Gresik dan Pasuruan,” ulasnya.

Faisal Basri, pakar ekonomi Universitas Indonesia (UI), mengatakan jika daya beli dalam negeri tidak terpengaruh dengan adanya fenomena melemahnya ekonomi dunia.

“Namun, pada awal tahun 2016 mendatang, kondisi ekonomi dunia masih tidak menentu. Untuk itu, kita harus waspada dalam menghadapi kondisi tersebut,” katanya.

Kata dia, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2015 berkisar sebesar 3,51 persen. Jika hal ini disebabkan karena harga rupiah yang tidak menentu. “Hal ini disebabkan oleh menurunnya ekonomi China yang cenderung menurun. Perlu diketahui, ekonomi China menduduki peringkat dua dunia versi PBB saat ini,” ungkap dia.

Di negara maju, sebut Faisal, mengalami penyakit epilepsi ekonomi. Hal ini disebabkan oleh suku bunga mendekat ke angka 0. Contohnya, Bank Central Eropa, saat ini suku bunga 0,05. Hal serupa juga terjadi di Amerika, suku bunga di Negara Paman Sam itu mencapai 0,25.

“Jika suku bunga mencapai angka 0. Hal ini sangat nilai negatif bagi dunia perrkonomian makro dunia,” ulasnya.

Namun, imbuh Faisal, ada hal positif yang dapat dirasakan ke depan. Yaitu dengan turunnya harga minyak dunia 43,68 USD resorses entermediet. “Hal ini akan menolong kita agar tidak tertekan dan terdampak akan harga minyak dunia,” tandasnya. (wh)