Indonesia Harus Bisa Swasembada Pangan Tiga Tahun Ke depan

Indonesia Harus Bisa Swasembada Pangan Tiga Tahun Ke depan
Kepala Dinas Pertanian Jatim Wibowo Ekoputro dan Kresnayana Yahya saat mengisi acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/2/2015).

Negara Indonesia dalam tiga tahun ke depan harus bisa menjadi negara swasembada pangan. Dukungan menyukseskan program harus dilakukan pemerintah dengan memperbaiki saluran irigasi, distribusi pupuk yang baik, dan bibit unggul.

“Pertanian begitu penting dan harus jadi pusat perhatian sebuah bangsa agar tidak jadi negara yang rapuh,” tegas Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/2/2015).

Kresnayana mengatakan, negara akan aman bila pertaniannya juga aman. Pertanian sekarang sudah tidak bisa dianggap lagi sebagai hal yang remeh. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi lumbung pangan nasional.

Dengan potensi sumber daya lahan seluas  1,147 juta  hektar, Jawa Timur  masih merupakan andalan utama produksi pangan dalam negeri, khususnya beras. Tahun 2000an, Jawa Timur menghasilkan 6 juta ton gabah kering giling. Dan pada tahun 2014, naik menjadi 12 juta ton gabah kering giling.

“Padahal masih banyak waduk yang belum dibangun. Dan bila hujan sawah sering kebanjiran,” ujarnya.

Menurut dosen stastika ITS ini, ada dua hal penting yang harus jadi perhatian utama pemerintah. Pertama, para petani harus diberikan edukasi tentang pertanian. Kedua, harus ada teknologi pertanian baru.

“Semua pihak tidak hanya pemerintah harus bekerjasama untuk meningkatkan hasil pertanian. Mulai dari pihak kampus yang menciptakan teknologi baru, dan bersama pemerintah untuk  membantu petani,” papar Kresnayana.

Begitu juga, sambung dia, para pengusaha di Indonesia bisa menyalurkan CSR-nya ke pertanian. Lembaga keuangan agar jangan cemas membantu petani.

“Beri support kepada para petani. Karena kalau pertanian aman, maka negara akan aman,” tutur dia.

Kepala Dinas Pertanian Jatim Wibowo Ekoputro mengatakan, sebanyak 16 persen perekonomian Jatim disumbang dari sektor pertanian. Untuk tanaman padi dan jagung sudah swasembada, sedangkan tanaman kedelai belum bisa.

“Benih pertanian nasional 80 persen berasal dari Jawa Timur,” kata Wibowo.

Untuk luas lahan pertanian di Jatim sendiri kini mencapai 1 juta 140 ribu hektar. Terjadi penyusutan sejak 2010 sebesar 4,200 hektar.

Ia berharap agar sudah mulai ada regenerasi untuk pertanian dan benih. Sekarang di Jatim sendiri banyak tanggul dan waduk baru yang bakal dibangun.

“Dan 29 kabupaten di Jatim diberikan pompa air dan traktor untuk mendukung swasembada pangan,” lanjut Wibowo.

Menurut dia, jutaan keluarga di Jawa Timur mengandalkan hidup dari menanam padi. Sehingga, perlu dipikirkan ulang semua pihak terkait upaya dan strategi yang tepat meningkatkan kesejahteraan petani padi di Jawa Timur.

“Kami juga bekerjasama dengan kampus untuk membantu dengan mengirimkan petugas penyuluh penyuluh pertanian,” ujarnya.

Juga penyediaan bibit dan pupuk, Pemerintah Provinsi Jatim berkomitmen terus memberikan kemudahan bagi para petani. Namun sayangnya ada beberapa petani yang masih menggunakan cara-cara tradisional untuk menggarap lahan pertaniannya.

“Ini yang akan terus kami beri pemahaman agar para petani memakai pupuk dan tekhnologi seperti yang kami sarankan,” tandas Wibowo. (wh)