Indonesia Butuh Banyak Pemimpin Lokal yang Baik

Indonesia Butuh Banyak Pemimpin Lokal yang Baik

 

Di tengah hiruk-pikuk politik di pusat kekuasaan, masih banyak tokoh di daerah yang berjuang memberdayakan komunitas masyarakat dengan melintasi batas-batas agama, suku, budaya, dan golongan. Mereka perlu terus disokong agar lebih berdaya untuk memperkuat Indonesia sebagai bangsa yang maju dan menghargai kemajemukan.

”Banyak tokoh di daerah yang mampu memimpin dan memayungi semua kepentingan masyarakat meski tidak banyak yang muncul dalam pemberitaan media. Mereka itu modal sosial untuk kemajuan bangsa,” kata Amin Abdullah, Guru Besar Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat peluncuran program Maarif Award 2014, di Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Hadir juga dalam acara yang dipandu Manajer Program Maarif Institute Khelmy K Pribadi ini Wakil Ketua Yayasan Centre for Strategic and International Studies Clara Joewono dan penerima Maarif Award tahun 2008 asal Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Haji Hasanain Juaini.

Tim Juri Maarif Award 2014

Khelmy mengatakan, Maarif Institute mengadakan Maarif Award ke-5 pada 2014. Para juri mencari dan menyaring tokoh-tokoh lokal dari kalangan warga biasa dan jauh dari pemberitaan, tetapi mengabdikan diri untuk kemanusiaan secara luar biasa. Selain memberdayakan komunitas masyarakat dan punya kesadaran lingkungan, mereka juga harus bekerja secara lintas batas agama, suku, dan budaya.

Amin mengungkapkan, banyak  pemimpin lokal tidak kalah penting dari tokoh-tokoh nasional. Para pemimpin lokal ini bahkan lebih menyentuh masyarakat karena bekerja nyata dan menghadapi berbagai problem di lapangan. Mereka bisa menjadi rujukan nasional, bahkan mungkin dibawa ke tingkat regional.

”Kita perlu mendukung para pemimpin lokal yang baik, peduli lingkungan, dan mampu menggerakkan masyarakat di bawah,” kata Amin.

Clara sependapat, banyak tokoh lokal menjaga penghargaan pada kebinekaan yang berakar dari tradisi di banyak daerah. Keberadaan mereka turut menjaga masyarakat dari berbagai kelompok agama, suku, dan budaya berbeda bisa hidup berdampingan, saling menghargai, dan saling memahami.

”Kita sebagai bangsa memiliki tradisi kebinekaan. Namun, toleransi dan kerukunan sering diusik oleh konflik kepentingan politik dan ekonomi. Di Ambon, Maluku, misalnya, dulu ada tradisi pela gandong yang menyatukan masyarakat dari
beragam latar belakang,” tutur Clara.

Para tokoh lokal yang menjaga dan terus mengembangkan kesadaran kebinekaan itu perlu didukung, salah satunya dengan mengangkat mereka dan memberikan penghargaan.

Hasanain bercerita, setelah mendapat Maarif Award tahun 2008, dia juga dianugerahi Magsaysay Award tahun 2011. Dua penghargaan itu membuat kiprahnya makin dikenal luas. Sokongan dari sejumlah pihak lalu berdatangan sehingga memudahkan dia untuk lebih bergiat memberdayakan masyarakat, mengembangkan pendidikan, dan melestarikan lingkungan.

”Kalau kita bekerja untuk orang banyak, nanti orang banyak akan membantu kita. Penghargaan membantu saya melipatgandakan pengaruh sehingga mendapat lebih banyak sokongan dan bisa mengajak lebih banyak orang lagi,” katanya.

Secara terpisah, saat memberikan pandangan tentang pemimpin Indonesia masa depan, analis senior Soegeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit, menuturkan, kriteria terpenting dari pemimpin mendatang adalah harus memiliki kesetiaan, kesederhanaan, dan kejujuran.

Sementara itu, Benny Susetyo dari Setara Institute mengharapkan hadirnya sosok pemimpin yang paling dipercaya masyarakat Indonesia. (Kompas)