Indonesia Butuh Banyak Bangun Mal

Indonesia Butuh Banyak Bangun Mal

Jumlah pusat belanja atau mal segmen atas, menengah, dan bawah di Indonesia hingga Desember 2013 sebanyak 300. Angka tersebut tidak termasuk pusat belanja yang masih dalam tahap konstruksi, desain, dan perencanaan.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) A Stefanus Ridwan mengungkapkan, dari keseluruhan itu mayoritas berada di Jakarta, disusul kawasan Bodetabek, Surabaya, Bandung, dan kemudian kota-kota utama lainnya di luar Pulau Jawa seperti Medan, dan Makassar.

“Sisanya terdistribusi merata di seluruh Indonesia. Bahkan, di Nusa Tenggara Timur pun sudah berdiri mal dengan peritel skala nasional besar yakni Floba Mora Mall,” ujar Stefanus akhir pekan ini.

Kendati setiap tahun bertambah, namun Stefanus beranggapan bahwa bila dibandingkan dengan rasio populasi dan pendapatan per kapita, maka jumlah pusat belanja masih kurang.

Singapura contohnya, meski negara kecil berpenduduk 5,3 juta jiwa, mereka punya mal sebanyak 200 buah. Sementara Indonesia dengan populasi 237.641.326 jiwa (sensus penduduk BPS 2010), cuma memiliki 300 mal.

Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta, setiap tahun selalu terjadi pergeseran kelas dan strata sosial. Jika pada tahun-tahun sebelumnya masyarakat A misalnya, berada pada strata bawah, saat ini naik kelas menjadi strata menengah.

“Pendapatan per kapita terus naik. Untuk itu, berapa pun jumlah mal terbangun, akan sangat bergantung kepada situasi pasar (supply and demand). Pada saat sekarang, menurut kami para peritel, jumlah mal memang masih sangat kurang. Kami punya kebutuhan melakukan ekspansi bisnis,” ujar Tutum..

Lebih jauh Tutum mengatakan, Pemerintah Daerah seharusnya punya analisa mengenai rasio populasi dan pendapatan per kapita. Dari analisa tersebut akan dihasilkan berapa sesungguhnya kebutuhan mal yang dapat mengakomodasi masyarakatnya.

“Sayangnya, Pemerintah Daerah di Indonesia belum tahu bagaimana harus merancang kotanya apakah menjadi destinasi bisnis, destinasi wisata, destinasi investasi atau kuliner. Kecenderungannya saat ini sama saja,” jelas Tutum. (kon/bh)