Indocement Berganti Nakhoda

 

Indocement Berganti Nakhoda

PT Indocement Tunggal Prakarsa berganti nakhoda. Jabatan  Direktur Utama yang sebelumnya diduduki Daniel Lavalle berpindah pada Christian Kartawwijaya.

Keputusan pergantian jabatan Direktur Utama itu sebenarnya telah disepakati pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan 6 Desember 2013 lalu.

Meski telah disepakati akhir tahun lalu, keputusan tersebut berlaku per 1 Mei 2014 untuk mempertimbangkan sejumlah persiapan yang harus dilakukan.

Saat itu, pemegang saham Indocement menyetujui pengunduran diri dua direksi produsen semen itu, yakni Direktur Utama Daniel Lavalle dan Direktur Komersial Nelson Borch.

Daniel Lavalle digantikan Christian Kartawijaya, sedangkan Nelson Borch digantikan Daniel Kundjono Adam.

Dalam RUPSLB itu, pemegang saham menyepakati pengunduran diri Daniel Lavalle efektif per 1 Mei 2014, sedangkan Nelson Borch efektif setelah RUPSLB itu.  Sebagai informasi, Christian Kartawijaya bukan orang baru di perusahaan semen terbesar kedua nasional itu.

Christian pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan Indocement pada 1 September 2004 hingga 1 Juni 2011, tetapi mengundurkan diri karena melanjutkan studi ke luar negeri.

Indocement sendiri memprediksi pasar semen di tanah air  tahun ini bakal tumbuh.  Pertumbuhan ini dipicu oleh banyaknya proyek infrastruktur akan direalisasikan dan pasar real estat untuk residensial dan komersial.

Terkait itu, pada 25 Maret 2013 lalu, Indocement telah  menandatangani perjanjian dengan Tianjin Cement Industry Design & Research Institute Co. Ltd dari China tentang penyediaan peralatan serta enjiniring bagi proyek pabrik baru di Citeureup dengan kapasitas 4,4 juta ton. Kegiatan “ground breaking” telah dilakukan pada tanggal 9 Oktober 2013. Dikemukakan, keseluruhan nilai dari pabrik baru diperkirakan antara Rp5,5-6,5 triliun.

Di samping itu, perseroan juga dalam tahap persiapan untuk proses perizinan untuk dua pabrik semen baru (greenfield) dengan kapasitas produksi masing-masing sekurang-kurangnya 2,5 juta ton semen per tahun, yakni satu pabrik di Jawa Tengah dan yang lainnya di luar Jawa. (bns/ram)