Importer Jatim Keluhkan Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Importir Jatim Keluhkan Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Sejumlah importer Jatim cemas dengan nilai tukar rupiah yang tak stabil kurun waktu terakhir. Pasalnya, kondisi tersebut membuat harus berhitung ulang dalam bersikap.

“Banyak importer tak berani bersikap untuk menyesuaikan harga barang, baik yang dipakai bahan baku industri maupun konsumsi. Tentunya kami berharap nilai tukar masih stabil. Bila terjadi fluktuatif berdampak pada spekulasi,” ujar Ketua DPD Gabungan Importer Seluruh Indonesia (GINSI) Jatim Bambang Sukardi.

Menurut Bambang, barang-barang pasokan yang diperlukan industri untuk bahan baku tetap diimpor kendati dollar berada di posisi berapa pun. Saat ini, importir sulit menentukan kenaikan harga dari barang yang didatangkan luar negeri. Semisal dollar berada di bawah 12 ribu, tapi tahu-tahu nanti di atas 12.500, kemudian turun lagi.

“Itu menyulitkan penghitungan kenaikan harganya,” cetusnya.

Dikatakan Bambang, para importer sekarang masih menahan kenaikan harga lantaran stok barang yang didatangkan di saat rupiah menguat masih cukup. Cuma, ia tidak bisa memastikan sampai kapan importer bisa menahan itu.

Ia menambahkan, para impoter sangat bergantung dengan pasar. “Jika pasarnya kuat, otomatis kami menaikkan harga. Tetapi juga kami sesuaikan dan tergantung dari permintaan,” bebernya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, penurunan nilai impor pada November 2013, impor non migas di Jatim turun 1,58 persen di bandingkan Oktober 2013. Adapun nilainya pada November USD 2,267 miliar atau setara Rp 27,4 triliun, sedang pada Oktober Rp 27,8 triliun.

Secara kumulatif nilai impor Jatim dari Januari sampai November 2013 mencapai USD 22,89 miliar atau Rp 275,9 triliun atau naik 1,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2012.

Disisi lain, data impor non migas terbanyak masih didominasi oleh mesin atau pesawat mekanik dengan nilai USD 228,4 juta (Rp 2,7 triliun), diikuti besi dan baja sebesar USD 112,6 juta (Rp 1,36 triliun), dan plastik dan barang dari plastik USD 104,2 juta (Rp1,2 triliun). (wh)