Impor Produk Hortikultura Naik 15 Persen

Impor Produk Hortikultura Naik 15 Persen

Upaya peningkatan produksi hortikultura di Indonesia masih sulit dilakukan. Sementara tingkat kebutuhan konsumsi yang terus naik membuat ketergantungan akan impor produk hortikultura tampaknya masih akan melanda Indonesia tahun ini. Peningkatan diperkirakan sekitar 15 persen.

“Kami memperkirakan nilai impor sayuran dan buah Indonesia akan mencapai USD 2 miliar atau setara Rp 23,8 triliun di tahun ini. Jumlah itu naik dari 2013 yang sebesar USD 1,7 miliar atau Rp 20,2 triliun,” kata Ketua Dewan Hortikultura Indonesia Benny Kusbini.

Ia mengatakan, berbagai kondisi di Indonesia membuat negara ini sulit melepaskan ketergantungan terhadap impor produk hortikultura. Selain produksi yang minim, adanya anomali iklim juga berikan pengaruh. “Terbukti pada musim banjir ini, pasokan sayuran dan buah nasional terancam berkurang. Padahal ini banjir menjadi masa kritis masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka,” ujarnya.

Sistem pertanian di Indonesia masih sangat kurang, lanjut dia, juga menjadi pemicu rendahnya produksi. Kondisi ini terjadi karena Indonesia tidak memiliki teknologi pertanian yang baik. Kemudian pendukung pertanian seperti pasokan pupuk, infrastruktur tak mampu menopang atau memberikan kekuatan bagi petani menyediakan pangan yang cukup.

Padahal, kata dia, banyak negara lain yang juga mengalami banjir seperti Indonesia. Namun, karena sistem pertanian mereka baik sehingga tidak perlu mengkhawatirkan tentang pasokan pangan seperti sayur dan buah dan lainnya. Bahkan, mereka mampu membuat sistem pertanian tidak terimbas terlalu besar dari bencana banjir.

Ia pun meminta pemerintah secara serius membenahi sistem pertanian dengan segera. Apalagi bisa dilihat jika nilai impor pangan nasional tak kunjung turun, justru terlihat terus bertambah tiap tahun. “Kita harus perhatian dalam membantu petani dan pengusaha,” tandasnya.  (ram)