Impor Bahan Baku dan Penolong Jadi Penghambat Industri Jatim

Impor Bahan Baku dan Penolong Jadi Penghambat Industri Jatim

Kepala Badan Pusat Statistik Jatim Teguh Pramono dan Kabid Statistik Distribusi BPS Jatim Satrio Wibowo dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (2/9/2016). foto; arya wiraraja/enciety.co

Kurun waktu lima tahun terakhir ini, pertumbuhan perekonomian Jawa Timur relatif stabil. Hal itu dipengaruhi beberapa sektor perekonomian yang secara konsisten men-support perekonomian Jatim. Di antaranya sektor industri, perdagangan, pertanian, jasa keuangan dan konstruksi.

“Sektor industri saat ini telah mengalami perlambatan pertumbuhan dibanding semester sebelumnya. Kami mencatat, dalam sektor industri Jatim hanya tumbuh sekitar 3 persen. Jika dibanding pada periode sebelumnya, kita dapat tumbuh di kisaran angka 5 persen,” terang Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (2/9/2016).

Menurut dia, investasi dalam sektor perdagangan dan pertanian menjadi kunci pertumbuhan di kedua bidang tersebut. Selain itu, sektor konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor pendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam bidang domestik.

“Bukan hanya di bidang domestik, ke depan kami juga ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi lewat bidang luar negeri,” terangnya.

Kata dia, neraca perdagangan kita pada semester 1 mengalami pertumbuhan positif yang angkanya mencapai USD 1,15 miliar.

Perlu diketahui, pada Januari hingga Juli 2015, neraca perdagangan mengalami defisit di angka USD 1,1 miliar. “Angka tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri, karena surplus tersebut disebabkan oleh menurunnya jumlah impor kita. Bidang import yang menurun di antaranya bahan baku dan penolong. Kekhawatiran itu muncul karena kondisi ini dapat menyebabkan menurunkan jumlah produksi kita kedepan,” terang Teguh.

Ia mengimbuhkan, kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan penurunan jumlah ekspor. “Jika jumlah bahan baku dan penolong yang kita import menurun maka jumlah eksport kita kedepan juga bakal ikut menurun. Perlu kita ketahui, memang kita harus mengurangi jumlah impor yang ada, namun untuk impor bahan baku dan penolong yang kita gunakan selama ini belum tergantikan peran dan fungsinya, baik itu dari dalam negeri,” urai Teguh. (wh)