Imlekan, Pertunjukan Wayang Potehi Laris Manis

Imlekan, Pertunjukan Wayang Potehi Laris Manis

Kertas merah bertulis sesanti huruf Tionghoa (kim choa) berjumlah empat yang tergantung di empat sudut tonil dijumput Sukar Mujiono. Sesaat kemudian kim coa tersebut dibakar. Ritual tersebut menjadi tanda pertunjukan Potehi di panggung khusus Kelenteng Hong Tiek Han atau Kelenteng Dukuh.

Mudjiono, sang dalang alias se hu, langsung undur dari belakang tonil. Begitu juga seorang pemain yang menjadi pembantu dalang (ji jiu) dan tiga pemusik yang disebut au tay. Kelimanya anggota Lima Merpati, grup wayang potehi beken di Surabaya.

“Meskipun beberapa dalang harus main di luar kota, pertunjukan potehi di sini jalan terus. Bahkan, per harinya bisa tiga sampai empat kali pertunjukan,” ujar Sukar Mudjiono kepada enciety.co, Senin (27/1/2014).

Wayang berbentuk boneka yang berwujud manusia dan hewan berukuran 40 cm, masuk kotak besar berukuran 100 x 75 x 50 cm. Alat-alat musik diletakkan atau digantung. Ada or wu (semacam rebab), dong ko (semacam tambur), sia lo (semacam kendang), tua lo (semacam canang), alat tiup suling dan terompet serta song chen (gitar tiga senar).

Usai menggelar pertunjukan, Mudjiono bersama timnya membicarakan jadwal manggung bulan Ferbruari 2014. Dalang senior yang juga pemimpin Grup Lima Merpati ini memang kerap mengisi pergelaran potehi di Indonesia.

Menjelang Imlek ini, sebagian besar kelenteng di tanah air merayakan hari pergantian tahun dengan dimeriahkan oleh pergelaran wayang potehi selama sebulan penuh. Para dalang potehi seperti kami ini pun akhirnya kebanjiran job di berbagai kota,” ucapnya.

Menurut dia, di Indonesia jumlah dalang potehi itu tidak banyak. Padahal, hajatan atau permintaan mendalang potehi ini dilaksanakan dalam waktu bersamaan di berbagai tempat.

“Ini yang disesalkan dengan kurang banyaknya orang yang mau menggantikan posisi kami untuk belajar wayang potehi,” ujar pria asal Kampung Dukuh, tak jauh dari kelenteng di kawasan pecinan Surabaya itu.

Edi Sutrisno, dalang Lima Merpati lain, mengakui pihaknya menerima job di berbagai tempat. Namun ia selalu membuat jadwal sehingga tidak sampai berbenturan.

“Seperti main main di Kelenteng Dukuh ini tidak terganggu dengan jadwal lain. Sebab, sejak dulu pengelola kelenteng ini memang berkomitmen menggelar pertunjukan wayang potehi setiap hari,” paparnya.

“Pokoknya, tiada hari tanpa wayang potehi. Komitmen inilah yang membuat kesenian ini bisa bertahan sampai sekarang,” pungkasnya.(wh)