Imlek, Banyak Kolektor Berburu Batu Mulia Bergambar Shio

Imlek, Banyak Kolektor Berburu Batu Mulia Bergambar Shio
Salah satu kolektor batu mulia menunjukkan koleksinya yang harganya jutaan rupiah di Pasar Kayoon Surabaya, Kamis (19/2/2015). avit hidayat/enciety.co

Di balik hiruk-pikuk keramaian masyarakat berburu batu mulia di Pasar Kayoon, Surabaya terdapat sejumlah kolektor yang terlihat asyik berburu batu-batu unik. Bagi orang kuturunan Tionghoa, berburu batu-batu unik bergambarkan shio menjadi salah satu kepercayaan tersendiri.

Diakui Agus, salah satu kolektor sekaligus pedagang batu mulia di Pasar Kayoon, awal tahun baru Imlek ke 2566 ini ada banyak orang berburu batu mulia bergambarkan shio.

“Kalau bagi kami koleksi batu mulia bergambar itu adalah seni tersendiri. Dan ini banyak dimaknai oleh orang keturunan (Tionghoa) sebagai simbol keberuntungan,” aku dia saat ditemui enciety.co, Kamis (22/2/2015).

Menurut Agus, para pemburu batu mulia biasanya tidak segan untuk mengeluarkan puluhan juta rupiah demi sebuah batu keberuntungan. Ini karena mereka percaya bahwa batu mulia mempunyai nilai-nilai sendiri yang biasa disebut orang-orang China sebagai sumber hoki.

“Biasanya mereka yang datang ke sini ini sudah sangat paham tentang batu dan berbagai manfaatnya. Kalau menurut saya sih, ya bagus saja gambarnya tidak ada karena bagi saya tidak ada kepercayaan apapun. Mulai dari batu bergambar macan, kuda, naga, kelinci, hingga kambing yang saat ini paling diburu,” ujar Agus.

Imlek, Banyak Kolektor Berburu Batu Mulia Bergambar Shio

Kolektor batu mulia bergambar shio lainnya mengamini hal itu. Seperti halnya Suharjo. Ia mengaku banyak didatangi masyarakat keturunan etnis Tionghoa yang mencari batu bergambar. Apalagi di momen imlek 2015 yang bershio Kambing Kayu ini, menurut Suharto banyak pelanggannya yang rela inden demi mendapatkan batu mulia bergambarkan kambing.

“Kan itu carinya susah. Apalagi kalau gambarnya kambing susah banget. Biasanya saya harus cari ke pelosok daerah sampai di Kalimantan hingga Ternate untuk mendapatkan batu Bergambar. Makanya harganya mahal,” ujarnya.

Biasanya, Suharjo mencari pola-pola bergambar tersebut dengan cara manual. Dengan melihat satu-persatu lembengan batu yang biasa dijual di pasar tradisional. Setelah mendapatkan pola gambar yang diinginkan, ia kemudian meneliti jenis batu itu berasal dan menguji kualitas lamanya batu dari sebuah teleskop kecil yang selalu dibawanya kemana-mana.

“Setelah (pola gambar) di dapat, tinggal diblat (dipotong) dan dipasang untuk cincin atau liontin. Kalau sudah jadi, harganya bisa mahal. Mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 500 juta,” akunya.

Meskipun harga sebuah batu sangat fantastis, diakui mantan wartawan tersebut, bahwa banyak masyarakat yang berburu dan membelinya. Terutama jika pembeli sudah menemukan kecocokan dengan batu tersebut, berapa pun harganya pasti dibeli. “Tapi rata-rata masyarakat Surabaya beli Rp 20 sampai Rp 50 jutaan lah,” tambahnya.

Selain disebut sebagai sebuah passion, seni, di batu mulia juga memiliki kekhasan. Misalnya yang dikenakan Arif Hermanto, yang mengaku lebih hoki dengan mengenakan cincin dari batu phirus atau batu mulia jenis sincang.

“Tapi kalau untuk Shio Kambing, biasanya banyak yang menggunaan batu merah siam atau batu opal,” aku pria berdarah Tionghoa ini. (wh)