Imbal Hasil Reksadana Saham Lebih Tinggi dari IHSG

 

Imbal Hasil Reksadana Saham Lebih Tinggi dari IHSG

Rata-rata imbal hasil reksadana saham masih lebih tinggi dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Juli 2014. Manajer investasi yang jeli memilih sektor saham pilihan untuk porfofolio reksadana saham memberikan keuntungan untuk kinerja reksadana saham.

Berdasarkan data Infovesta, yang dikutip Selasa (5/8/2014), rata-rata imbal hasil reksadana saham sebesar 22,89 persen secara year to date pada 25 Juli 2014. Sedangkan kinerja IHSG tumbuh 19,06 persen ke level 5.088.

Kinerja reksadana saham ini pun mampu berada di atas produk reksadana lainnya. Kinerja reksadana campuran mencatatkan rata-rata imbal hasil sekitar 13,38 persen. Lalu kinerja reksadana pendapatan tetap sebesar 4,72 persen.

Adapun reksadana saham yang mampu melebihi IHSG antara lain pertama, reksadana saham Dana Pratama Ekuitas mencatatkan imbal hasil 41,71 persen. Lalu reksadana Pratama saham mencatatkan imbal hasil 38,67 persen, dan NISP Indonesia Sektor Leader tumbuh 31,89 persen.

Menurut pengamat pasar modal, Rudiyanto, kenaikan imbal hasil reksadana saham ini ditopang pemilihan saham di sejumlah sektor saham yang tepat oleh manajer investasi. Pada awal tahun, sektor saham perbankan dan infrastruktur mencatatkan kenaikan terbesar.

Berdasarkan data BEI, indeks sektor saham keuangan naik 25,51 persen secara year to date menjadi 678,17 pada 4 Agustus 2014. Lalu sektor saham infrastruktur naik 24,58 persen ke level 1.159,05.

“Manajer investasi milih sektor saham yang lebih tinggi dari IHSG menunjang reksadana. Awal tahun ada sektor saham perbankan, consumer dan infrastruktur. Sementara itu, pertambangan dan perkebunan baru naik 1-2 bulan ini,” ujar Rudiyanto.

Selain itu, Rudiyanto menilai, manajer investasi yang melakukan pergantian sektor saham dengan tepat juga turut menambah keuntungan bagi reksadana saham. “Lalu kinerja IHSG baik juga menopang reksadana saham. Pemilihan umum berjalan cukup sukses memberikan sentimen positif untuk indeks saham,” tutur Rudiyanto.

Hal senada dikatakan, Analis PT Infovesta Utama, Yosua Zisokhi. “Faktor yang dapat membuat imbal hasil reksadana saham lebih tinggi dari IHSG adalah pemilihan sektor yang tepat. Manajer investasi dapat mengalokasikan lebih besar dananya pada beberapa sektor yang mempunyai prospek baik,” kata Yosua.

Prospek Reksadana Saham

Yosua memperkirakan, reksadana saham masih cukup menarik hingga akhir tahun. Akan tetapi kenaikan indeks saham diperkirakan tidak sekencang reli yang terjadi pada semester I 2014. Hal itu karena secara valuasi, pasar saham sudah relatif cukup mahal dengan price earning ratio (PER) di atas 17,5 kali.

Rudiyanto menuturkan, reksadana saham masih positif hingga akhir 2014. Saat ini, pelaku pasar sedang menunggu susunan kabinet di pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. “Bila susunan kabinet itu sesuai dengan keinginan rakyat maka memberikan sentimen positif untuk bursa saham,” ujar Rudiyanto. (lp6/wh)