IKAGI Ancam Tahan Sisa Produksi Gula Hingga Akhir Tahun

IKAGI Ancam Tahan Sisa Produksi Gula Hingga Akhir Tahun

Jatuhnya harga gula akibat rembesan dari gula impor memukul pelaku industri gula. Kali ini Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) berencana menahan sisa produksi gula hingga akhir 2014 atau adanya kebijakan baru dari pemerintah.

Ketua IKAGI Subiyono menyatakan, rencana menahan penjualan gula tersebut. “IKAGI memiliki dua opsi, menahan penjualan gula hingga akhir tahun atau menunggu kebijakan baru dari pemerintah,” katanya dalam workshop Bedah Industri Gula di jawa Timur, di Pabrik Gula Kremboong, Sidoarjo, Rabu (24/9/2014).

“Kita berencana menahan industri gula sampai ada kebijakan baru dari pemerintah. Terus terang, jatuhnya harga gula di tingkat petani akibat adanya rembesan impor,” tegas Subiyono.

Menurut dia, kebijakan itu tidak akan terganggu dengan jatuhnya harga patokan petani (HPP) bila disebabkan mekanisme pasar tanpa adanya campur tangan impor gula.

Dengan menahan penjualan gula diakui sedikit menggangu kinerja perusahaan. Dimana revenue dari penjualan gula dipastikan menurun. Tetapi IKAGI menekankan kepada pelaku industri gula untuk melakukan diversifikasi usaha. Seperti yang sudah dilakukan PT Perkebunan  Nusantara X, yang mampu memproduksi bio ethanol, edamame, dan bunscis jepang.

“Hal ini kita lakukan agar stabilitas keuangan tetap terjaga, meskipun kita tidak menutup mata, tetap berusaha agar gula bisa terjual sesuai mekanisme,” tegas proa yang juga Direktur Utama PTPN X itu. Sementara realisasi produksi gula PTPN X tahun lalu mencapai 484.000 ton. Sedangkan realisasi produksi hingga September tahun ini sudah tercapai 80.000 ton.

Industri gula lainnya yang mengalami pukulan akibat jatuhnya HPP adalah PTPN XI. Corporate Secretary, M.Khoiri menyebut HPP yang dipatok pemerintah Rp8.500 perkilogram, tetapi realisasi dilapangan hanya Rp8.100 perkilogram.

Terpisah, Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Aris Toharsiman mengakui saat ini harga gula lokal sulit bersiang dengan produk impor.

“Saat ini harga gula impor hingga pelabuhan dipatok Rp6.500 perkilogram. Sedangkan kita mencapai Rp 8.500, selisihnya cukup jauh, dan pasar lebih memilih gula impor,” tandasnya. (wh)