Hujan, Petani Garam Panen Lebih Awal

Hujan, Petani Garam Panen Lebih AwalHujan yang terus mengguyur kawasan Surabaya dan sekitarnya  membuat petani garam panen lebih awal.  Akibatnya, hasil panen pun tak bisa maksimal. Tergerus sampai  setengahnya.

“Mau gimana lagi. Yang penting kami bisa panen meski hasilnya tak bisa maksimal,” terang Mardjito, petani garam di wilayah Romo Kalisari Surabaya.

Diceritakannya, para petani usai memanen garam grosok di pinggir tambak biasanya dibiarkan hingga 10 jam untuk mencapai kering. Bila hujan datang, dipastikan garam di lahan habis lantaran mencair digerus air hujan. “Kami belum tahu bila ada cara modern untuk meningkatkan produksi garam di musim penghujan,” bebernya.

Menurut Martidjo hingga kini, harga garam juga menurun di musim penghujan. Bila musim kemarau tiba, para petani kembali merasakan manisnya memanen garam.

Martidjo terpaksa harus melepas stok garamnya. Sebab, harga garam di gudang kini hanya tiga ratus rupiah per kilogram, sedangkan harga di atas truk tiga ratus lima puluh rupiah per kilogram.

“Dengan harga segitu sangat rugi, padahal harga sebelumnya bisa mencapai lima ratus rupiah per kilogram,” pungkasnya.(ram)