Honda CBR 150 R Ditarget Terjual 1.000 Unit

Honda CBR 150 R Ditarget Terjual 1.000 Unit
foto:motorcycle.in.th

Distributor Honda wilayah Jawa Timur PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM) mengincar penjualan 1.000 unit CBR 150R per bulan agar mampu mencapai target pangsa pasar motor sport sebesar 40 peren hingga akhir tahun ini.

Presiden Direktur MPM Suwito mengatakan, CBR 150 R yang sudah bisa diproduksi di pabrik dalam negeri itu cukup mendapat respon masyarakat lantaran harganya yang berada di bawah Rp 30 juta atau lebih rendah di bandingkan motor sport lain di kelasnya.

“Harga tersebut menjadi peluang buat kami untuk memperbesar pangsa pasar motor sport di Jatim, apalagi sudah diproduksi di sini dengan mayoritas konten lokal yang membuat harganya menarik,” katanya di Surabaya.

Dia mengatakan sejak dibuka inden melalui online pada awal September 2014, terdapat 1.500 unit atau peminat CBR 150R secara nasional dan sekitar 201 unit merupakan inden dari Jatim.

“Inden online telah ditutup, setelah diluncurkan ini, sekarang sudah bisa dibeli langsung di diler. Ada 10 pembeli pertama yang datang motornya dan telah kami serahkan saat launching, salah satu peminatnya berasal dari Madiun,” jelasnya.

Adapun saat ini pangsa pasar motor sport Honda berada di angka 30 persen, sedangkan pangsa pasar motor bebek sebesar 68,7 persen dan motor matic 82 persen yang masih menjadi primadona kendaraan bermotor bagi masyarakat Jatim. Secara keseluruhan tipe motor Honda hingga Agustus 2014 tercatat memiliki 71,2 persen pangsa pasar, dengan tingkat pertumbuhan penjualan 5,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Suwito menjelaskan kontribusi penjualan motor sport Honda tahun ini didominasi oleh tipe Honda CB 150 R dengan penjualan sekitar 3.500-4.000 unit/bulan, disusul oleh Honda Verza dengan tingkat penjualan 1.000 unit/bulan, lalu Mega Pro dan terakhir CBR 250 R yang masih impor.

“Di Jawa Timur pasar motor sport untuk seluruh merek mewakili 17 persen, kami yakin ke depan motor sport akan semakin dimintai terutama di kalangan anak muda,” imbuhnya.

Dia memaparkan siklus penjualan motor tahun ini lebih digenjot pada kuartal 3 dan 4, lantaran pada kuartal 1 dan 2 ada kendala pasar yakni bencana Gunung Kelud dan nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak, serta listrik.

“Bahkan saat ini akibat rusaknya jembatan Comal, biaya pengiriman motor dari Jakarta bertambah. Pengiriman menggunakan jasa kereta api tambah 30 persen dan yang lewat jalur selatan tambah 10 persen,” jelasnya. (bns/ram)