Hitung Inflasi, BPS Jatim Ubah Perhitungan

Hitung Inflasi, BPS Jatim Ubah Perhitungan

 

Pengukuran inflasi di Indonesia saat ini menggunakan indeks Harga Konsumen (IHK) metode tahun dasar 2012=100. Sistem penghitungan ini  sudah mulai diberlakukan sejak Januari 2014.  Sebelumnya, penghitungan memakai cara lama, yakni 2007-100.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim M Sairi Hasbullah mengatakan jika dibandingkan IHK lama banyak sekali perubahan khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang.

“Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK,” katanya di kantornya, Jalan Kendangsari Industri, Surabaya, Jumat (28/3/2014),

Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya. Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya.

Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Untuk penghitungan inflasi Jawa Timur pada tahun 2014 terdapat penambahan 1 kota baru yakni Kabupaten Banyuwangi, sehingga total kabupaten/kota yang tercakup dalam penghitungan Inflasi Nasional sebanyak 8 kabupaten/kota di Jawa Timur, yaitu: Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Banyuwangi, Sumenep, Probolinggo, dan Madiun.

Sedangkan untuk paket komoditas di Jawa Timur hasil SBH 2012 mengalami penambahan komoditas dibanding hasil SBH 2007 yaitu dari 470 komoditas bertambah menjadi 533 komoditas.

Paket komoditas terbanyak ada di Surabaya yaitu 424 komoditas, dan yang palling sedikit di Banyuwangi sebanyak 244 komoditas. Jumlah paket komoditas kota IHK di Jawa Timur adalah Kediri sebanyak 377 komoditas, Malang sebanyak 372 komoditas, Jember sebanyak 360 komoditas, Madiun sebanyak 325 komoditas, Probolinggo sebanyak 323 komoditas dan Sumenep sebanyak 319 komoditas Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan.

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS). (ram)