Hingga Juni 2015, Bank Jatim Salurkan Kredit Rp 28,29 T

Hingga Juni 2015, Bank Jatim Salurkan Kredit Rp 28,29 T
foto: bankjatim.co.id

Perlambatan ekonomi tak menahan laju ekspansi kredit Bank Jatim Tbk dalam pengembangan pembiayaan di seluruh lini usahanya. Sepanjang enam bulan pertama 2015, bank yang saham mayoritasnya dimiliki Pemda Jawa Timur  ini berhasil membukukan total kredit sebesar Rp 28,29 triliun.

 

“Kita tetap membukukan peningkatan laju kredit meski ekonomi melesu. Saya optimis ekonomi akan semakin bagus dan akan mendorong peningkatan kinerja Bank Jatim ke depan,”  ujar Dirut Bank Jatim R Soeroso dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (29/7/2015).

 

Bank Jatim mampu menunjukkan kinerja terbaik hingga Juni 2015. Ini tercermin dari sejumlah indikator seperti total aset tumbuh 19,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 50,23 triliun. Dana pihatketiga tumbuh 20,3 persen menjadi Rp 42,68 triliun , sementara pendapatan bunga naik menjadi Rp 2,22 triliun, atau tumbuh 17,25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 1,89 triliun.

 

Naiknya pendapatan bunga merupakan hasil dari peningkatan laju kredit yang hingga semester I 2015 tercatat sebesar Rp 28,29 triliun, atau tumbuh 13,97 persen dibanding  total kredit per Juni 2014 yang tercatat sebesar Rp 24,82 triliun.“Kita berharap kredit bisa tumbuh 17-20 persen tahun ini,” imbuh Soeroso.

 

Untuk DPK, Soeroso berharap bisa tumbuh 15-17 persen, sementara net profit 15-18 persen. “Kita berharap bisa membukukan laba sekitar Rp 1,5 triliun tahun ini,” imbuhnya.

 

Untuk mencapai itu, sejumlah program telah disiapkan perseroan. Di sisi pembiayaan, perseroan membidik pengembangan kredit usaha mikro  kecil  dan menengah (UMKM)  untuk meningkatkan kontribusi pada pengembangan ekonomi daerah.

 

Untuk mendukung UMKM, kita akan kembangkan kredit pundi kencana, kredit mikro dan linkage program dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). “Kita berharap pelaku UKM bisa berkembang dan menjadi motor penggerak pertumbuhan dan pembangunan daerah,” harap Soeroso.

 

Dia mengakui  perolehan laba bersih selama semester I 2015 turun tipis 3,4 persen dari Rp 543,28 miliar pada Juni 2014 menjadi Rp 524,32 miliar pada Juni 2015. “Turunnya laba bersih karena kita melakukan penambahan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif),” katanya.

Dengan langkah-langkah menekan kredit macet yang dilakukan perseroan, seperti pembentukan Tim Adhoc diharapkan kredit macet bisa turun. “NLP di kisaran 2,8 sampai 3,1 persen. Kita terus mencoba menurunkannya,” papar Soeroso. (wh)