Hindari Generation Gap dalam Membina Pemuda

Hindari Generation Gap dalam Membina Pemuda
Teks: Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (26/6/2015).

Sebagai mahluk sosial, kita perlu mempertahankan nilai-nilai positif dalam kehidupan yang harus ditransformasikan dari generasi ke generasi. Kegiatan pembinaan sangat penting dilakukan. Pembinaan bagi pemuda bukan lagi melalui sebuah wadah pembibitan suatu organisasi seperti OSIS, Pramuka, atau Karang Taruna. Kegiatan pembinaan sekarang harus melalui pendekatan pada komunitas-komunitas anak muda.

“Contohnya pembinaan dan sosialisasi antinarkoba yang diadakan kepolisian dengan menggandeng komunitas pencinta motor atau bikers yang ada di Kota Surabaya,” ungkap Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (26/6/2015).

Komunitas–komunitas ini dibentuk berdasarkan kesamaan hobi atau kesukaan di antara mereka. Contohnya, komunitas pencinta motor, komunitas sepeda tua dan komunitas pencinta komik.

Kresnayana mengatakan, dalam membina anak muda dibutuhkan pendekatan langsung mengena pada lingkungan pergaulan mereka, yakni komunitas yang mereka bentuk.

“Untuk mengarahkan anak muda zaman sekarang, cara-cara kekerasan tidak laku. Perlu pendekatan yang halus untuk mengarahkan mereka,” papar dia.

Dia menambahkan, seharusnya Pemerintah bisa menata ulang sistem pendidikan yang ada di Indonesia. “Jangan sampai terjadi generation gap atau adanya jurang pemisah antara generasi tua dan generasi muda. Hal tersebut dapat mengakibatkan kesalahpahaman antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar,” jelas doses statistika ITS tersebut.

Ia mengatakan, jika perbedaan antara guru dan murid di Indonesia adalah 15-20 tahun. “Sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi akan membuat anak menjadi semakin terasing,” tegasnya.

Kemajuan teknologi telah membuat pola pikir dan cara kerja kaum muda menjadi luar biasa. Keterbukaan arus informasi membuat kerja mereka menjadi cepat dan instan.

Dia juga mengungkapkan, saat ini perusahaan-perusahaan besar mulai mencari bibit-bibit tenaga kerja dimulai dari anak usia 17 tahun.

“Mereka diberikan beasiswa dan diarahkan untuk memilih satu spesialisasi keahlian bidang profesi yang akan mereka tekuni setelah lulus nanti,” ungkapnya.

Hal itu, sambung dia, dilakukan karena perusahaan-perusahaan tersebut ingin menjaga kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada di perusahaannya.

“Perlu dicermati, model rekrutmen yang dilakukan perusahaan besar saat ini adalah dengan menyelenggarakan kompetisi. Contohnya kompetisi menciptakan software komputer, kompetisi menciptakan game, dan lain sebagainya,” terangnya

Menurut Kresnayana, di dunia kerja terdapat dua tipe pekerjaan. Pertama, pekerjaan rutin yang mengharuskan seseorang melakukan pekerjaannya secara teratur dan konsisten setiap harinya.

Kedua, pekerjaan non rutin. Dalam pekerjaan ini, seseorang tidak dituntut untuk konsisten dalam melakukan pekerjaannya, namun dapat disimpulkan pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang penting. Sampai saat ini pekerjaan non rutin belum dapat tergantika oleh kemajuan teknologi.

Ia mengingatkan,pekerjaan rutin di dunia kerja saat ini sudah berkurang karena fungsinya telah digantikan oleh kemajuan teknologi. “Saat ini, kita harus meningkatkan pekerjaan non rutin, karena fungsi dan peran pekerjaan ini mengharuskan seseorang harus sering bersosialisasi dengan orang lain. Contohnya melayani orang, bertatap muka, dan bernegosiasi,” pungkas dia. (wh)