Herman Halim: Perbankan Incar Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga

Herman Halim: Perbankan Incar Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
Herman Halim, Ketua Perbanas dan Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/2/2016). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Setelah krisis ekonomi tahun 1998, dunia perbankan Indonesia terus berbenah diri. Makanya, jangan heran jika dunia perbankan kita saat ini sangat stabil. Terlebih ketika menghadapi pelemahan ekonomi global yang terjadi sepanjang 2015 lalu.

Herman Halim, Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Surabaya, menegaskan perbankan memiliki pondasi yang sangat kuat. Begitu terjadi kenaikan suku bunga, perbankan kita telah mampu meramalkan hal tersebut dan dapat menyikapinya dengan bijak.

“Terlebih saat ini, Indonesia memiliki sistem untuk memantau likuiditas bank, di antaranya yang dilakukan Bank Indonesia, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan lembaga terkait lainnya,” kata Herman ketika menjadi narasumber acara Perspective Dialogue bertajuk tema “Tantangan Perbankan 2016” di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/2/2016).

Kata dia, perekonomian Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang hasilkan oleh Pemerintah. Pada tahun 2015, pertumbuhan laba perbankan di Indonesia mengalami penurunan.

“Tercatat tahun 2014, pertumbuhan laba perbankan mencapai Rp 142 triliun. Sedangkan pada tahun 2015 turun menjadi Rp 132 triliun. Namun, hal tersebut disertai dengan kecenderungan tiap bank terbilang mendapatkan profit,” urai dia.

Ia mengimbuhkan, jika perlambatan profit yang diderita oleh dunia perbankan di 2015 dimulai dari kwartal pertama hingga kwartal ketiga. “Sebenarnya, dunia perbankan Indonesia mulai bangkit sejak September 2015 lalu. Diindikasi, hal tersebut terjadi karena kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah,” tuturnya.

Selain beberapa kebijakan pemerintah yang mampu mengembalikan performa bank hingga tetap tegar, Herman mengungkapkan jika tingkat Non Performing Loan (NPL) atau angka kredit macet sepanjang tahun 2015 juga terbilang kecil, meskipun NPL 2015 lebih besar dari pada NPL 2014.

“Kami mencatat, NPL 2015 mencapai 2,39 persen, setelah di tahun sebelumnya NPL perbankan mencapai 2,04 persen,” kupasnya.

Pada tahun 2016 mendatang, dunia perbankan menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga. Herman menjelaskan, jika saban tahun pertumbuhan kredit lebih meningkat ketimbang pertumbuhan dana dari pihak ketiga.

“Tahun 2015, kami mencatat pertumbuhan kredit mencapai angka 10,45 persen. Sedangkan, untuk pertumbuhan dana hanya mencapai 7,26 persen,” jelasnya.

Ke depan, dia berharap agar bank-bank yang ada di Indonesia dan memiliki kantor di luar negeri dapat mendatangkan investor dana pihak ketiga. “Sebab, bank-bank yang telah dapat membuka kantor di luar negeri berarti bank-bank tersebut juga memiliki jaringan investor luar negeri yang dapat ditarik ke dalam negeri,” ungkap dia. (wh)