Ini yang Harus Dilakukan Industri Alas kaki dan Tekstil Nasional

Ini yang Harus Dilakukan Industri Alas kaki dan Tekstil Nasional
Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (22/1/2016). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Nilai ekspor nasional mengalami penutrunan pada tahun 2014 hingga 2015,. Ada 10 komoditi ekspor yang mengalami penurunan jika dilihat dari HS (Harmonized System) Code, suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan mempermudah penarifan, transaksi perdagangan, pengangkutan dan statistik tersistematis melalui sistem klasifikasi.

Di peringkat pertama, komoditi ekspor diduduki alas kaki, dengan nilai HS Code 64 persen. Angka ini naik sebesar 9,7 persen dari tahun 2014 yang lalu. Di peringkat kedua terdapat komoditi tekstil yang naik hingga 1,19 persen dari tahun sebelumnya.

“Saat ini, komoditi tekstil nasional kita mengalami masalah. Pada tahun 2014, nilai ekspor pakaian jadi Indonsia sangat tinggi. Namun memasuki 2015 hingga kuartal ketiga, nilai tersebut semakin turun. Ini disebabkan ada penurunan produksi dalam produksi benang dan serat kain. Namun, produksi pakaian jadi memiliki harapan sangat cerah dan ke dapat berkembang lagi,” urai Chairperson Enciety Business Consul Kresnayana dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (22/1/2016).

Kata dia, prospek cerah juga terlihat pada  komoditi alas kaki nasional. Dia menyebut merek sepatu yang terkenal di dunia saat ini adalah Nike. Di seluruh dunia, merek tersebut hanya memiliki dua pabrik terbesar, yakni di Vietnam dan Indonesia.

Menurut Kresnayana, jika membandingkan kedua pabrik tersebut, ternyata pabrik sepatu Nike di Vietnam lebih cepat berkembang dibanding pabrik Nike di Indonesia.

“Kita ambil contoh pabrik sepatu di Malaysia. Saat ini industri alas kaki di Malaysia bukan lagi dikategorikan sebagai industri saja, namun industri sepatu disana berubah menjadi industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Contohnya merek sepatu Charles And Keith buatan Malaysia, yang saat ini diminati dunia. Terobosan-terobosan semacam inilah yang harus dilakukan oleh para pelaku industri alas kaki nasional,” papar doses statistia ITS itu.

Ia mengimbuhkan, perkembangan dalam segi desain produk dan packaging juga harus diperhatikan. Sebab, hal tersebut bisa mendatangkan investasi lebih.

“Perkembangan tersebut juga mendatangkan tenaga kerja asing profesional yang kompeten dari berbagai negara. Hal ini terjadi karena mereka telah menjadikan Malaysia sebagai pusat fashion Asia. Berbeda dengan negara kita yang masih menggolongkan semua bidang sebagai industri yang konservatif. Ini terlihat dari upah pekerjanya yang saat ini masih sama dengan upah para pekerja industri manufacturing lainnya,” tuturnya.

Selain itu, terang Kresnayana, spesifikasi dan klasifikasi sektor industri di Indonesia belum berjalan. Masalah ini lantas menimbulkan etos kerja yang ditunjungkan oleh tenaga kerja tidak berjalan maksimal.

“Bayangkan, jika kerja keterampilan yang ditunjukkan oleh tangan disamakan dengan hasil kerja yang dilakukan oleh mesin pabrik, mestinya ada klasifikasi upah.Inilah salah satu problem yang membuat industri kita tertinggal dari negara Asia lainnya, terutama dari segi produktivitas,” jelas Kresnayana.

Sebenarnya, nilai kualitas dari hasil produk yang dihasilkan Indonesia merupakan salah satu yang terbaik. Akan tertapi, jika nilai kualitas baik tanpa diimbangi nilai produktivitas tinggi, maka membuat ongkos produksi jauh lebih mahal.

“Nilai ekspor alas kaki Indonesia paling banyak diminati di banyak negara, yang kedua adalah Amerika. Untuk nilai ekspor tekstil pakaian jadi, hasil produk Indonesia sangat diminati di Amerika,” urainya.

Ke depan, sebut Kresnayana, jika prospek komoditi ekspor 2016 yang memiliki Indonesia paling berpotensi adalah di dua komoditi tersebut. Ini dikarenakan jumlah tenaga kerja Indonesia di bidang tersebut sangat banyak.

“Contohnya alas kaki, pekerja kita ada sekitar 12 juta pekerja, sedangkan untuk tekstil ada sekitar 10 juta orang. Yang kedua, Indonesia telah memiliki buyers atau pasar yang minat akan hasil produksi dibidang tekstil sejak tahun 2008 hingga 2014,” tandas dia. (wh)

Informasi kebutuhan layanan data KLIK DISINI.