Harga Semen Anjlok,  Klaim Pertumbuhan Ekonomi China  Dipertanyakan

 

Tahun Depan, Ekonomi China Turun Capai 7 Persen
Tahun Depan, Ekonomi China Turun Capai 7 Persen

Klaim Pemerintah China akan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7 persen mulai  pertanyakan. Ini menyusul anjloknya harga semen di negeri tersebut hingga 25 persen  dalam dua tahun terakhir.

Semen memang merupakan indikasi utama tentang bagaimana kinerja ekonomi yang sebenarnya. Jika banyak orang membeli semen dalam jumlah besar, artinya mereka punya uang untuk membangun obyek-obyek baru yang besar dan permanen. Rumah, jalan, jembatan, kota. Jika pembangunan gedung dan konstruksi menurun, maka harga semen akan turun. Inilah sepertinya yang terjadi di  China sekarang, menurut ekonom lembaga konsultan Macquarie, Larr

Menurut Macquarie, pertumbuhan investasi aset tetap — yang pada dasarnya adalah belanja untuk infrastruktur dan bangunan — seharusnya stabil pada angka 20 persen sejak 2013.

Ini tidak masuk akal, kecuali Anda salah satu dari mereka yang percaya bahwa  chona berbohong soal data pertumbuhan PDB. Pengamat di luar curiga bahwa pertumbuhan ekonomi  negara ini yang riil hanya 4 persen. Itu pun masih cukup besar untuk skala perekonomian raksasa  China.

Namun pasar saham Tiongkok juga sedang anjlok, utang besar, indikator obyektif seperti konsumsi listrik lemah, dan negara itu sedang menuju “pembalikan generasi” yang akan menghapus keunggulan dalam hal pertumbuhan populasi.

Dan sekarang, harga semen terjun bebas pada saat bersamaan dengan anjloknya harga logam. Menurut analisis Goldman Sachs, kondisi itu dirangkum sebagai berikut: “Tidak ada yang terlihat bagus di sini, kecuali Anda percaya bahwa Tiongkok telah menemukan cara untuk menambah laju pertumbuhan ekonomi menjadi 7 persen per tahun tanpa semen dan logam.” (bst)