Harga Selisih Tipis dengan Premium, Konsumsi Pertamax Melonjak 320 Persen

Harga Selisih Tipis dengan Premium, Konsumsi Pertamax Melonjak 320 Persen

Konsumsi Pertamax di wilayah  Jatim, Bali dan Nusatenggara melonjak drastis. Dari data PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V, Surabaya, mencatat konsumsi BBM pertamax meningkat 320 persen. “Sejak harga BBM jenis pertamax turun dari Rp 10.300 menjadi Rp 8.800 terjadi peningkatan konsumsi yang signifikan. Untuk wilayah region V meningkat 320 persen, dan khusus Jatim peningkatannya mencapai 350 persen,” ujar Heppy Wulansari, Assistant Manager External Relation PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V, Jatim, Bali dan Nusatenggara, Rabu (14/1/2014).

Peningkatan itu tidak lepas dari perbedaan harga antara BBM jenis premium dan pertamax yang tidak terpaut jauh. Yakni sekitar Rp 1.200 perliternya. Hal itu berbeda di 2014 silam di mana harga premium dan pertamax cukup jauh. Untuk pertamak berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 11 ribu sedangkan untuk premium waktu itu Rp 6.500.
Kendati ada peningkatan konsumsi BBM pertamax, diakui stoknya masih di Peramina masih aman. Termasuk pendistribusian pertamax ke sejumlah SPBU juga tidak ada kendala. Kendati begitu, pihaknya meminta agar pengelola SPBU untuk menambah delivery order. Terutama ketika stok di SPBU-nya mulai menipis. “Pertamina sekarang ini juga menambah enam mobil tanki pertamax. Dengan daya tampung masing-masing mobil tanki 168 kl,” tegasnya.
Tambahan mobil tanki ini untuk wilayah Jatim, seperti Surabaya, Malang, Kediri, Banyuwangi, Madiun dan Camplong, Madura. Di wilayah PT Pertamina Marketing Operation Regional V sendiri tercatat ada 1134 SPBU, sedangkan di Jatim jumlah SBPUnya mencapai 837 buah. Sedangkan SPBU yang menyediakan pertamax berjumlah 706 buah dan di Jatim ada 563 buah SPBU.
Sedangkan untuk konsumsi BBM jenis premium diakui tidak ada peningkatan yang signifikan. Dari konsumsi perharinya sekitar 15.513 kl (kiloliter) menjadi 15.524 kl atau hanya naik sekitar 1 persen.
“Untuk konsumsi bbm jenis premium di Jatim juga normal, pehari sekitar 11.360 kl menjadi 11.396 kl atau naik hanya sekitar 0,3 persen,” tegas Heppy, panggilan akrab Heppy Wulansari.
Sementara untuk konsumsi BBM jenis solar, permintaan relatif stabil. Yakni perhari sekitar 6980 kl dan di Jatim sekitar 5300 kl. Sampai saat ini pertamina juga terus menjaga stok BBM. Dimana untuk jenis premiun dan solar mayoritas disuplai dari kilang BBM di Cilacap dan Balikpapan. Sedangkan untuk BBM pertamax di suplai dari kilang Balongan, Jabar. (wh)