Harga Sapi Naik Jelang Idul Adha

Harga Sapi Naik Jelang Idul Adha
Kepala Dinas Peternakan Jatim, Maskur. foto: bangsaonline.com

Kepala Dinas Peternakan Jatim, Maskur menegaskan jika harga ternak saat menjelang Idul Adha akan mengalami lonjakan, khususnya sapi. Namun, diyakininya untuk harga daging di pasaran akan relatif lebih stabil.

“Meski tidak ada kekurangan stok sapi potong, namun saat Hari Raya Idul Adha nanti tetap akan ada lonjakan harga sapi potong. Ini karena permintaan untuk kurban pada musim Lebaran Haji cukup tinggi. Jika harga sapi normalnya berkisar antara Rp 12-14 juta, maka pada Idul Adha bisa sampai Rp 20 juta,” kata Maskur, Rabu (9/9/2015).

Namun demikian, ia menegaskan lonjakan harga hanya akan terjadi hingga lebaran haji saja. Setelahnya harga sapi dipastikannya akan kembali normal kembali. “Namun yang perlu diingat, harga sapi berbeda dengan harga daging. Harga daging akan normal, namun harga sapi yang akan naik, ini karena permintaan untuk kurban sangat banyak,” tuturnya.

Kendati permintaan sapi naik, ia juga memastikan stok sapi aman. “Masyarakat tidak perlu khawatir, terutama menjelang Idul Adha 2015. Kebutuhan sapi di Jatim per tahunnya sekitar 450-500 ribu ekor, namun serapannya baru mencapai 40%. Untuk rata-rata pemotongannya per hari mencapai 1.200 ekor, tapi khusus menjelang Idul Adha bisa mencapai 5.000 ekor sapi,” kata Penjabat Bupati Ponorogo tersebut.

Sedangkan untuk kebutuhan sapi ke luar Jatim, kata dia, per tahunnya mencapai 280-310 ribu ekor, namun sampai sekaang baru terserap 118 ribu ekor. “Meski per harinya pemotongan lebih besar dibandingkan hari biasa, tapi itu cukup. Dengan demikian maka stok sapi untuk sebulan ini dipastikan aman dan tidak menemui kendala,” ungkapnya.

Menurut dia, harga untuk hewan qurban tidak bisa disamakan dengan harga daging pada umumnya karena kondisi fisik seekor sapi atau kambing sangat mempengaruhinya. Ia mencontohkan, untuk harga sapi berusia dua tahun yang beratnya 250-300 kilogram bisa mencapai Rp20 juta, maka otomatis untuk sapi yang mencapai 1 ton tentu lebih mahal.

Selain menggaransi ketersediaan daging sapi potong, pihaknya juga mewaspadai masuknya hewan kurban berpenyakit antraks dan Jembrana Disease. Disnak pun kembali memperketat sejumlah daerah pemantauan. “Pengalaman tahun lalu saat Idul Adha kami menolak kambing-kambing asal Jateng. Sebab, kasus terakhir tahun 2011, di Sragen dan Karang Anyar Jateng sempat terjadi kasus antraks.” ujarnya.

Antraks, lanjut dia, bisa menyerang kambing dan sapi. Kalau sampai antraks sampai masuk Jatim, pasti kambing dan sapi Jatim tidak akan laku. Untuk mewaspadai penyakit tersebut, pos-pos pemantau kesehatan hewan terus disiagakan. Saat ini Jatim memiliki 8 pos pemantau ternak di beberapa daerah. Dua ada di Magetan, satu di Ponorogo, Ngawi, Ketapang Banyuwangi, Pacitan, dan dua di Tuban.

Di pos-pos ini, setiap ternak akan dicek kesehatan fisik ternak dan harus disertai surat kesehatan dari dokter yang memeriksa. Pada pos ini juga memeriksa peruntukannya apakah sudah sesuai atau tidak. “Kalau untuk dipotong kan harus jantan. Pada pos ini nantinya juga diketahui jumlahnya sehingga retribusinya jelas,” tambahnya. (kmf/wh)