Harga Membaik, Produksi Susu Jatim Naik 20 Persen

Harga Membaik, Produksi Susu Jatim Naik 20 Persen

Membaiknya harga jual susu sapi perah sejak tahun 2013 dipastikan akan berdampak positif terhadap kenaikan produksi susu di tahun ini. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur memperkirakan, akan ada kenaikan produksi susu sekitar 15-20 persen, dari rata-rata sehari mencapai 1 juta liter menjadi 1,15 juta liter hingga 1,2 juta liter per hari.

Saat ini, harga jual susu sapi perah di tingkat koperasi mencapai Rp 5.750 per liter, sementara di tingkat peternak mencapai Rp4.500 per liter. Harga tersebut jauh lebih baik dibanding tahun lalu yang rata-rata hanya dikisaran Rp 3.900 per liter.

Kenaikan tersebut menurut Ketua GKSI Jatim Sulistiyanto, terjadi secara bertahap sejak tahun lalu, kenaikan dikisaran Rp100 per liter sampai Rp300 per liter. Pada awal Januari 2014 harga kembali naik Rp300 per liter sehingga harga jual susu sapi perah ditingkat koperasi saat ini mencapai Rp5.750 per liter.

Tingginya harga tersebut memicu gairah peternak untuk lebih menekuni usahanya meningkatkan produksi susu. Peternak akhirnya mampu membeli pakan yang kualitasnya lebih baik. Melalui perbaikan pakan, ia perkirakan produktivitas sapi perah akan naik dari 10 liter per ekor per hari menjadi 11 liter hingga 12 liter per ekor perhari, naik sebesar 15-20 persen.

“Kalau tahun lalu dengan populasi sapi perah di Jatim sebesar 170 ribu ekor, produksi hanya mencapai 1 juta liter per hari atau 365 juta liter per tahun, di tahun ini kami perkirakan akan mencapai 1,2 juta liter per hari atau sekitar 408 juta liter per tahun,” kata Sulistiyanto, Surabaya, Jumat (31/1/2014).

Meski terjadi kenaikan yang signifikan, volume tersebut masih belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan susu dalam negeri, apalagi kapasitas produksi Industri Pengolahan Susu (IPS) kian meningkat. Secara nasional, produksi susu hanya mampu memenuhi 20 persen dari total kebutuhan susu dalam negeri. Sisanya harus diimpor dari berbagai negara. Sementara di wilayah Jatim, kekurangan mencapai 600 ribu hingga 700 ribu liter per hari. Agar produksi bisa memenuhi kebutuhan, harus diupayakan penambahan populasi sebanyak 30.000 ekor.

“Kami sudah melayangkan permohonan kepada pemerintah agar peternak sapi perah bisa mendapatkan pinjaman jangka panjang sekitar 10 tahun hingga 12 tahun dengan bunga sebesar 6 persen. Usulan sudah kami layangkan kepada Menteri Perekonomian Hatta Radjasa dalam beberapa waktu yang lalu. Harapan kami pemerintah mau mendengar karena peningkatan produksi susu harus dilakukan seiring dengan tingginya kebutuhan IPS. Jika ini dibiarkan, kita akan terus menjadi pengimpor susu dan volumenya akan semakin besar,” katanya.(wh)