Harga Minyak Jatuh, Bumerang bagi Arab Saudi

Harga Minyak Jatuh, Bumerang bagi Arab Saudi
foto: thecommentator.com

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan harga minyak dunia jatuh membuat Arab Saudi mencari pendanaan dari luar negeri. Bambang mengatakan, anjloknya harga minyak dunia dipicu oleh penurunan harga minyak dari Arab Saudi salah satu negara penghasil minyak besar. Produsen negara minyak telah memompa produksi minyak hingga pasokannya berlebih sehingga menjatuhkan harga minyak.

Menurut Bambang,  keberhasilan Arab Saudi menurunkan harganya menjadi bumerang, karena membuat pendapatannya menurun dan membuat  defisit neraca berjalan hingga 20 persen. “Tapi harga minyak rendah dia belum tentu happy, defisit neraca berjalan 20 persen dari GDP, kita (Indonesia) 2 persen atau 1,9 persen,” tutur Bambang.

Bambang menambahkan, kondisi tersebut membuat Arab Saudi sebagai negara kaya raya pertama kali mencari pendanaan dari luar negeri. Lantaran jika memaksakan menggunakan uang sendiri akan membuat kasnya menipis. “Pertama kali juga Arab Saudi nyari uang dari market. Arab Saudi melihat kalau  semua ditutup cadangan dia akan habis cepat,” kata Bambang.

Harganya naik hampir 6 persen pada perdagangan Kamis ini setelah terjadi penarikan pasokan besar-besaran dalam 7 bulan terakhir di titik pengiriman minyak mentah di Cushing, Oklahoma, Amerika Serikat (AS).Harga minyak AS melonjak 5,7 persen dan menetap di angka USD 47,15 per barel. Sedangkan minyak Brent ditutup datar di angka USD 50 per barel. (lp6)