Harga Melonjak, Bulog Jatim Krisis Kedelai

 

Harga Melonjak, Bulog Jatim Krisis Kedelai

Tingginya harga kedelai di atas Harga Pokok Pembelian (HPP) membuat Perum Bulog Divre Jawa Timur kesulitan melakukan pembelian. Padahal sejak semester pertama pada Januari hingga Juni 2014, total kebutuhan Bulog mencapai 17 ribu ton. Namun Bulog hanya bisa menyerap 200 ton kedelai saja.

“Kami kesulitan mendapatkan kedelai dari petani karena harga beli petani yang ditetapkan pemerintah lebih rendah dibandingkan harga pasaran. Harga di tingkat petani berkisar Rp 8.200 ribu hingga 8.500 per kilo gram,” jelas Kepala Bulog Divre Jawa Timur Rusdianto, saat ditemui di kantornya, Kamis (10/7/2014).

Dikutip dari kemeninfo.jatim.go.id, Bulog harus bersaing dengan pembeli langsung. Seperti pengrajin tahu tempe, sehingga sulit mendapat dengan harga sesuai HPP.  Padahal Kementerian Perdagangan periode April hingga Juni 2014 telah menetapkan harga beli petani sebesar Rp 7.500 ribu per kilo gram.

“Pada periode Juli hingga September nanti Kementerian Perdagangan juga menetapkan harga sebesar Rp 7.600 ribu per kilo gram atau naik 1,3 persen saja,” tuturnya.

Dijelaskannya, harga beli tersebut berfungsi sebagai batas bawah pembelian bila harga kedelai di pasaran anjlok. Meski demikian, kenyataannya harga jual kedelai petani lebih tinggi dari harga yang dipatok pemerintah. Sementara di sisi lahan, luas pertanaman kedelai Jawa Timur pada 2014 hanya 202,9 hektar atau turun 3,6 persen dibandingkan luas pertanaman pada 2013 sebesar 210,6 hektar.

Dengan harga yang cukup tinggi tersebut, Rusdianto optimistis mampu meningkatkan minat dan gairah petani menanam kedelai. “Dari pantauan di lapangan minat petani tanam kedelai cukup tinggi karena dinilai lebih menguntungkan. Jika panen banyak, maka serapan Bulog akan bisa lebih tinggi,” ucapnya.

Untuk kesiapan infrastruktur, Rusdianto mengatakan hal itu tak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, Bulog Jatim memiliki gudang sebanyak 14 titik lokasi yang bisa menampung sekitar 1,2 ribu ton kedelai. “Intinya, kami siap, baik dari segi infrastruktur maupun pembiayaannya,” tuturnya.

Kebutuhan konsumsi kedelai diperkirakan masih cukup tinggi. Dari informasi Himpunan Perajin Tahu Indonesia (Hipertindo) kebutuhan yang tinggi bakal memproyeksikan tren kenaikan harga kedelai. Setiap tahunnya, rata-rata kenaikan harga kedelai di pasar internasional bisa mencapai Rp 500 sampai seribu rupiah per kilo gram. (wh)